Tampilkan postingan dengan label mahameru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mahameru. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Oktober 2008

KENANGAN KEPADA SEORANG DEMONSTRAN - SOE HOK GIE

MAHAMERU
16 Desember 1969

Yang mencintai udara jernih
Yang mencintai terbang burung-burung
Yang mencintai keleluasaan & kebebasan
Yang mencintai bumi

Mereka mendaki ke puncak gunung-gunung
Mereka tergadah dan berkata,
kesanalah SOE HOK GIE dan IDHAN LUBIS pergi
Kembali kepangkuan bintang-bintang

Sementara bunga-bunga negeri ini tersebar sekali lagi
Sementara sapu tangan menahan tangis
Sementara desember menabur gerimis

24 Desember 1969
SANENTO YULIMAN
(Puisi GIE dipuncak Mahameru - Semeru, 3676 mdpl)


"Ngapain lama-lama tinggal di Jakarta. Mendingan naik gunung. Di gunung kita akan menguji diri dengan hidup sulit, jauh dari fasilitas enak-enak. Biasanya akan ketahuan, seseorang itu egois atau tidak. Juga dengan olahraga mendaki gunung, kita akan dekat dengan rakyat di pedalaman. Jadi selain fisik sehat, pertumbuhan jiwa juga sehat. Makanya yuk kita naik gunung. Ayo ke Semeru, sekali-kali menjadi orang tertinggi di P. Jawa. Masa cuma Soeharto saja orang tertinggi di P. Jawa ini,"


KENANGAN KEPADA SEORANG DEMONSTRAN - SOE HOK GIE

Enam belas Desember 30 tahun lalu, Soe Hok Gie, tokoh mahasiswa dan pemuda, meninggal dunia di puncak G. Semeru, bersama Idhan Dhanvantari Lubis. Sosok dan sikapnya sebagai pemikir, penulis, juga aktivis yang berani, coba ditampilkan Rudy Badil, yang mewakili rekan lainnya, Aristides (Tides) Katoppo, Wiwiek A. Wiyana, A. Rachman (Maman), Herman O. Lantang dan almarhum Freddy Lasut.

"Siap-siap kalau mau ikut naik lagi ke Gunung Semeru. Kasih kabar secepatnya, sebab harus ada persiapan di musim penghujan Desember, juga pertengahan Desember itu bulan puasa Ramadhan," kata Herman O. Lantang, mantan pimpinan pendakian Musibah Semeru 1969, yang masih amat bugar di umurnya yang sudah lewat 57 tahun.

Terkejut dan tersentuh juga saya saat mendengar ajakan Herman itu. Dia merencanakan membentuk tim kecil untuk mendaki puncak Semeru lagi Desember ini, sambil memperingati 30 tahun meninggalnya dua sobat lama kami, Soe Hok Gie dan Idhan Lubis. "Kita juga akan berdoa, sekalian mengenang Freddy Lasut yang meninggal beberapa bulan lalu," lanjutnya.  Soe meninggal dunia saat baru berumur 27 tahun kurang sehari. Idhan malah baru 20 tahun. "Tanpa terasa Soe sudah tiga dasawarsa meninggalkan kita sejak Orde Baru ... perkembangan yang terjadi di Tanah Air dalam dua tahun terakhir ini, khususnya gerakan mahasiswa yang telah menggulingkan pemerintahan Orde Baru, mengingatkan kita kembali pada situasi tahun 1960-an, ketika Soe masih menjadi aktivis mahasiswa kala itu," begitu bunyi naskah buku kecil acara "Mengenang Seorang Demonstran", (berisikan antara lain diskusi panel soal bangsa dan negara Indonesia ini), yang bakal diselenggarakan Iluni FSUI dan Alumni Mapala UI.

Kasih batu dan cemara Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Soe yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), di benak saya mulai tergali suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di G. Semeru.

Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru (puncaknya G. Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, bersama Maman saya terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan. Kami menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru.

Di depan kelihatan Soe sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan. Sempat pula kami berpapasan dengan Herman dan Idhan. Kelihatannya kedua teman itu akan menjadi yang paling akhir mendaki ke Mahameru.

Dengan tertawa kecil, Soe menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, "Simpan dan berikan kepada kepada 'kawan-kawan' batu berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI." Begitu kira-kira kata-kata terakhirnya, sebelum bersama Maman saya turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).

Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, kami menunggu datangnya Herman, Freddy, Soe, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.

Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. "Soe dan Idhan kecelakaan!" katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, kami berjalan tertatih-tatih ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Soe, dan Idhan berkali-kali.

Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Soe dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Kami berharap semoga Soe dan Idhan cuma pingsan, besok pagi siuman lagi untuk berkumpul dan tertawa-tawa lagi, sambil mengisahkan pengalaman masing-masing.

Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan. Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta kami menjaga kesehatan Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.

"Cek lagi keadaan Soe dan Idhan yang sebenarnya," begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, kami berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang. Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, kami yakin kalau Soe dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Kami jumpai jasad kedua kawan kami sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Soe dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Kami semua diam dan sedih.

Mengapa naik gunung Sejak dari Jakarta Soe sudah merencanakan akan memperingati hari ultahnya yang ke-27 di Puncak Mahameru. Malam sebelumnya, tanggal 15 Desember, dalam
tenda sempit di tepi hutan Cemoro Kandang, Soe yang amat menguasai lirik dan falsafah lagu-lagu tertentu, meminta kami menyanyikan lagu spiritual negro, Nobody Knows, sampai berulang-ulang. Padahal irama lagu ini monoton sampai sudah membosankan kuping dan tenggorokan.

Idhan yang pendiam, cuma duduk tertawa-tawa, sambil mengaduk-aduk rebusan mi hangat campur telur dan kornet kalengan. Malam dingin dan hujan itu, kami bertujuh banyak bercerita, termasuk mendengarkan rencana Soe yang mau berultah di puncak gunung. "Pokoknya gue akan berulang tahun di atas," katanya sambil mesam-mesem. "Nyanyi lagi dong. Lagu Donna Donna-nya Joan Baez itu bagus sekali."

Pagi hari nahas itu, sebelum berkemas untuk persiapan pendakian ke puncak, kami sarapan berat. Soe yang biasanya cuma bercelana pendek, kini memakai celana panjang dengan sepatu bot baru. Bahkan dia mengenakan kemeja kaus warna kuning dengan simbol UI di kantung. "Keren enggak?" Tanyanya.

Rombongan pun berjalan mendaki, menuju Puncak Mahameru dari dataran di kaki G. Bajangan. Soe sebagaimana biasanya, selalu memanggul ransel besar dan berat,berjalan gesit sambil banyak cerita dan komentar. Ia mengisahkan bahwa di sekitar daerah itu pasti masih banyak harimau karena dia menemukan jejak kakinya. Dia juga menyebut kalau Cemoro Kandang berlumpur arang gara-gara kebakaran hutan pinus tahunan, sebagai pertanda seleksi alam dan proses regenerasi tanaman hutan.

Dosen sejarah ini terus nyerocos kepada mahasiswanya (saya), asal muasal nama recopodo alias arca kembar, serta mitologi Puncak Mahameru yang berkaitan dengan nasib Pandawa Lima dalam pewayangan Jawa. Namun sang mahasiswa juga membayangkan dengan geli, betapa kagetnya wakil DPR-RI saat itu ketika menerima bingkisan dari kelompok Soe berisi gincu dan cermin sebagai perlambang fungsi anggota DPR yang banci. Sayang, cuma segitu ingatan saya tentang Soe pada jam-jam terakhirnya.

Yang masih tetap terngiang justru rayuan dan "falsafahnya", kala mengajak seseorang mendaki gunung. "Ngapain lama-lama tinggal di Jakarta. Mendingan naik gunung. Di gunung kita akan menguji diri dengan hidup sulit, jauh dari fasilitas enak-enak. Biasanya akan ketahuan, seseorang itu egois atau tidak. Juga dengan olahraga mendaki gunung, kita akan dekat dengan rakyat di pedalaman. Jadi selain fisik sehat, pertumbuhan jiwa juga sehat. Makanya yuk kita naik gunung. Ayo ke Semeru, sekali-kali menjadi orang tertinggi di P. Jawa. Masa cuma Soeharto saja orang tertinggi di P. Jawa ini," kira-kira begitu katanya, sambil menyinggung nama mantan Presiden Soeharto, nun sekitar 30 tahun lalu.

Memang pendakian ke Semeru ini merupakan proyek kebanggaan Mapala FSUI 1969. Soe dengan keandalannya melobi kiri-kanan, mampu mengumpulkan dana untuk subsidi penuh beberapa rekan yang mahasiswa bokek sejati.

Singkat cerita, musibah sudah terjadi. Soe mungkin tidak membayangkan betapa kematiannya bersama Idhan Lubis bikin repot setengah mati banyak orang. Kami yang ditinggal dalam suasana tak menentu, selama sembilan hari benar-benar hidup tidak kejuntrungan. Selain puasa sampai tiga hari karena kehabisan makanan, kami makin sedih saat menerima surat dari Tides via kurir, menanyakan keadaan Soe dan Idhan. Herman, kami sudah sampai di Gubuk Klakah hari Kamis pagi, sesudah jalan sepanjang malam (sekitar 20 jam). Pak Lurah menyanggupi tenaga bantuan 10 orang dan bekal. Mohon kabar bagaimana Soe, Idhan, dan Maman dll. secepatnya mendahului rombongan ... Tides dan Wiwik 18-12-69.

Saya pun terpilih menjadi kurir, mendahului rombongan sambil membawa surat untuk Tides. Isinya apalagi kalau bukan minta bantuan tenaga dan bahan makanan. Herman pun menulis surat: Saya tunggu di Cemorokandang dan bermaksud menunjukkan "site" tempat jenazah Soe dan Idhan ... kirimkan: gula/gula jawa, nasi, lauk, permen, pakaian hangat ... sebanyak mungkin! Akhirnya, semua bantuan tiba. Seluruh anggota rombongan baru berkumpul lagi pada tanggal 22 Desember di Malang. Kurus dan kelelahan. Maman terpaksa dirawat khusus beberapa hari di RS Claket. Sedangkan Soe dan Idhan, terbaring kesepian di dalam peti jenazah masing-masing. Untuk terakhir kali, kami tengok Soe dan Idhan. Soe yang mati muda, terbujur kaku dengan kemeja tangan panjang putih lengkap dengan dasi hitam. Jenis barang yang tidak mungkin dipakai semasa hidupnya.

Monyet tua yang dikurung Kalau diingat-ingat, selama beberapa minggu sebelum keberangkatan dengan kereta api ke Jatim, Soe memang suka berkata aneh-aneh. Beberapa kali dia mengisahkan kegundahannya tentang seorang kawan yang mati muda gara-gara ledakan petasan. Ternyata dalam buku hariannya di CSD, Hok Gie menulis: "... Saya juga
punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru ...."

Soe yang banyak membaca dan sering diejek dengan julukan "Cina Kecil", memanfaatkan kebeningan ingatannya untuk menyitir kata-kata "sakti" filsuf asing. Antara lain, tanggal 22 Januari 1962, ia menulis: "Seorang filsuf Yunani pernah menulis ... nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda."

Soe yang penyayang binatang (dia memelihara beberapa ekor anjing, banyak ikan hias dan seekor monyet tua jompo), sebelum musibah Semeru itu sempat berujar: "Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras ... diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil ... orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur."

Arief Budiman, sang kakak yang menjemput jenazah Soe di Gubuk Klakah, juga merasakan sikap aneh adiknya. Sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, "Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang ... makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan ... Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian." (CSD) Arief sendiri mengungkapkan, ibu mereka sering gelisah dan berkata: "Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang." Terhadap Ibu, dia cuma tersenyum dan berkata: "Ah, Mama tidak mengerti". Arief pun menulis kenangannya lagi: ... di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram karena voltase yang selalu naik turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, sering kali masih terdengar suara mesin tik ... dari kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangan ... saya terbangun dari lamunan ... saya berdiri di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik, "Gie kamu tidak sendirian". Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yag saya katakan itu. 


dari : milis jejak petualang

Sabtu, 26 Juli 2008

Buser Semeru




pendakian bersama team milis jejak petualang dan milis # pendaki, 16-20 juli 2008, dengan jumlah peserta 27 pendaki....pendakian ini merupakan pendakian gabungan, yang diawali dari kontak dimilis pecinta alam.....

BRAVO TEAM BUSER SEMERU.......

inilah video perjalan kita kemarin.. versi layar lebarnya ditunggu ya......

Kamis, 30 Agustus 2007

SEMERU - EKSPEDISI MERAH PUTIH

SEMERU - EKSPEDISI MERAH PUTIH
(14-18 Agustus  2006)
SAHABATdariSURABAYA

-SAHABATdariSURABAYA-
koHAN, Wahyu, Hengky, Harto,
Ribut, Eric.
-IJO LUMUT-
Arif, Sigit, Eko, Agung, Rizky, Adit,
Suryo

Bungurasih-Surabaya
14 Agustus 2006
    Diawali dengan semangat’17-an, Ekspedisi terbesar pertama yang aku jalani, biasanya kalo naik gunung tanpa persiapan dan cuma nge-track nginep semalem digunung. Dan juga ini ekspedisi pertamaku bersama SAHABATdariSURABAYA. Meskipun bukan pendakian pertamaku dijawa timur, sebelumnya sudah mendaki Arjuno dan Bromo.
    Sesuai kesepakatan, kita berlima janjian kumpul di Masjid Bungurasih, Sehabis sholat Isya’ semua kru dari Surabaya ngumpul, perjalan dimulai dengan naik Bis Jurusan Malang. Kebetulan saat itu jalur ke malang masih bisa lewat TOL Porong, meskipun sudah mulai Buka-Tutup nggak pasti. Dan ini juga saat pertama kali aku lihat Luapan Lumpur yang sangat dahsyat. Yang bahkan sampe sekarang masih belum berhenti dan Tol Porong sudah hilang dari Peta Bumi. Selain ngeri juga sempat punya pikiran iseng, Besok kalo mau muncak gunung ga’ perlu jauh-jauh. Cukup jalan aja ke porong sudah liat kawah.

Terminal Arjosari kota Malang

    Sampe diterminal kota Malang sekitar pukul 10 malem, kita terlambat hampir 2 jam. Maklum perjalanan di Tol Porong merayap, karena terendem air Lumpur. Diterminal kita disambut Mas Eric temennya mas Wahyu, salah satu kru dari Surabaya. diterminal Arjosari kita ketemu Rombongan dari Surabaya “Ijo Lumut-SMK Rajasa”. Ini juga awal kita mulai petualangan bersama naik kegunung-gunung lain dijawa timur. Dari Teminal Arjosari kita naik angkot menuju pasar Tumpang, per-anak Rp 6.000,-.Penuh sesak naik angkot dipenuhi guyonan-guyonan ala pendaki.

Pasar Tumpang - Malang
   
    Sampe dipasar Tumpang masih pukul 11 malem, ternyata perjalan belum bisa dilanjutkan malam itu, kerena kita akan ikut naik Truk Sayur besok pagi. Semalem kita mulai merasakan jadi anak liar dan dinginnya tidur diemperan pasar.

15 Agustus 2006

    Segelas Kopi panas di pagi hari, menjelang subuh kita dipaksa sudah harus terbangun karena emperan tokonya sudah berubah menjadi pasar. Kanan kiri banyak pedagang yang mulai bangun mencari rejeki. Sambutan hangat dari pemilik Truk sayur, Pak No, dengan segelas kopi hangat. Sekitar pukul 6 pagi perjalan dimulai dari pasar Tumpang, da rombongan lain juga yang ikut naik truk. Biaya per orang Rp 20.000,-.
    Pos Perijinan di Tumpang, setiap pendaki dimintai kontribusi Rp 7.000,-. Biasanya pada waktu-waktu salain pendakian masal cuma Rp 4.000,-. Pengelola Gunung Semeru dibawah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Perjalan dilanjutkan melalui jalur yang cukup ekstrim, kanan kiri jurang dan pertanian sayuran masyarakat Tengger. Selain itu juga pemandangan cukup bagus, kita bisa melihat Bromo Back Side (foto di folder Fotografer.Net). Sebuah hamparan lautan pasir khas Bromo megah terhampar. Terlihat kokoh dari belakang.

Ranu Pane - Lumajang
    Sekitar dua jam sampailah Rombongan didesa terakhir, Ranu Pane 2.200 mdpl. Sebelum dilanjutkan dengan jalan kaki. Disini romongan melaporkan perbekalan dan jumlah personil yang akan mendaki. Karena di bawah TNBTS, pendakian di Semeru terasa istimewa, semua koordinasi terorganisir dengan baik. Pendakian Start dari Pos I Ranu Pane, kita disambut dengan sebuah penunjuk arah “Semeru 17 km”. Wow!! Perjalan yang jauh.

Ranu Kumbolo
    Naik turun perbukitan selama sekitar 4 jam, kita akan menemui sebuah hamparan danau yang sangat eksotis, masih alami belum tersentuh dunia modern. Ranu Kumbolo adalah danau bekas kawah gunung semeru. Dengan ketinggian 2.300 mdpl. Hawa disini sudah mulai dingin. Rombongam berencana untuk nge-camp semalam disini, disisi barat danau.

16 Agustus 2006

     Pagi harinya sekitar pukul 4 suhu masih sengat ekstrim -4 derajat Celcius. Embun pagi yang berupa air berubah menjadi butiran es. Sekitar pukul 5.30 pagi, Matahari mulai menyelinap diantara bukit, pemandangan semakin menakjubkan, danau Ranu Kumbolo dengan suhu air yang lebih hangat dari suhu udaranya. Sehingga seluruh permukaan airnya dipenuhi asap air yang menguap.
    Pukul 10 pagi. Pendakian kembali dilanjutkan, tidak jauh dari Ranu Kumbolo kita langsung disuguhi track yang cukup terkenal dan juga terjal sepanjang 100m, Tanjakan Cinta. Mitosnya siapa yang mampu melewati Tanjakan Cinta tanpa behenti, maka kisah cintanya akan mulus. Siapa yang sanggup?. View Ranu Kumbolo dari puncak Tanjakan Cinta pun tidak kalah menawan, dengan pantulan sinar mataharinya seperti lautan kristal.

Oro-oro Ombo
    Turun dari Tanjakan Cinta, sudah
menanti hamparan padang rumput yang cukup panjang. Kita bisa memilih rute memutari padang rumpt ini dengan jalan menurun atau melewati sepanjang jalan setapak yang mendatar. Diujung Sabana yang cukup luas ini, rombongan istiraha sejenak di Pos 3 Oro-Oro Ombo. Dari sini kita mulai lagi pendakian melalui track naik turun yang cukup panjang dan melelakan. kanan kiri merupakan belantara yang kering, karena pendakian dilakukan pada musim kemarau. Tapi jika musim penghujan hutan belantara ini pasti sangat lebat.

Kali Mati
    Setelah melewati hutan oro-oro ombo, kita akan melewati jalur mendatar lagi. Disini kita akan kembali takjub. Karena puncak mahameru sudah mulai kelihatan. Dengan durasi yang cukup teratur, sekitar 20 menit sekali terlihat jelas luncuran awan panas yang keluar dari kawah gunung semeru.
    Kali mati 2.700 mdpl, merupakan Pos ke 4 dari pendakian Semeru. Di pos ini juga merupakan tempat terakhir bekal persedian air minum. Dengan berjalan sekitar 1 jam kita akan menjumpai mata air yang tidak terlalu besar. Disarankan untuk mengambil bekal air minum disini, karena setelah ini tidak dijumpai sumber mata air.

Arcopodo  
    Track yang kita lewati setelah Pos 4 akan berubah drastis. Sebelumnya kita dimanja track mendatar, dengan naik turun sedikit. Setelah masuk hutan Arcopodo. Hutan terakhir sebelum puncak Mahameru. Track akan langsung mendaki dengan jalanan yang berdebu. Cukup menyiksa apalagi dengan beban berat tas carier yang ada dipundak. Kadang juga menemui jurang. Sehingga harus bergantian jika berpapasan dengan rombongan lain.
    Untuk pendakian malam hari di hutan ini harus ekstra hati-hati. Pos 5 Arcopodo berada diketinggain 3.000 mdpl. Terdapat area yang cukup datar, sehingga banyak digunakan untuk camp terakhir sebelum pendakian ke puncak. Disini juga terdapat banyak “Nisan” yang bertulisakan nama-nama pendaki yang gugur sebagai Green Ranger Indonesia. 

17 Agustus 2006

    Jam 1 dini hari, diantara rimba hutan cemara dan dinginnya udara gunung yang menusuk. Kami dan semua rombongan yang mendirikan camp di Arcopodo dibangunkan oleh Panitia Pengibaran Bendera Merah Putih Upacara Proklamasi Kemerdeakan Indonesia di puncak Mahameru. Pada tahun 2006 ini Panitia dari Kampus ITN Malang. Perjalanan kepuncak dimulai sekitar jam 2 pagi.

Mahameru
    Track berpasir dan berdebu yang licin, dengan kanan kiri berupa tebing jurang yang gelap. Ditambah udara puncak yang dingin menusuk. Setiap pendaki merayap berbaris satu persatu. Cukup melelahkan, karena setiap kita mendaki selangkah, maka langkah kita akan melorot separuhnya. Karena medan yang kita daki adalah pasir terjal dengan kemiringan hampir 450. dan ini adalah satu-satunya rute yang bisa dilewati.
    Setelah mendaki dan merayap sekitar 4 jam, sampailah kita dipuncak Mahameru, 3.676 mdpl. Sebuah puncak teragung, puncak tertiggi tanah jawa. Disebelah barat kita bisa melihat jajaran gunung Panderman, Arjuno-Welirang, Penanggungan. Agak serong keutara sejurus hamparan istana hijau TNBTS, dengan gunung Batok dan Bromo sebagai pusatnya, berada ditengah mengepulkan asap belerangnya. Hingga pandangan kita tertuju pada puncak gunung Pananjakan. Mungkin kita akan lebih sering melihat foto TNBTS dari Pannjakan dari pada dari puncak Mahameru. Memang karena dari pananjakan sudah diset menjadi objek wisata.  
    Sebentar menikmati puncak Mahameru dengan luncuran awan panas yang keluar dari Kawah Jonggring Saloko, dilanjutkandengan Upacara detik-detik Proklamasi. Khidmat. Setiap peserta dengan bangga mengibarkan bendera club adventure-nya.
   Tak akan habis-habisnya kita puja keagungan alam, yang disuguhkan oleh Tuhan untuk menunjukkan kebesaran-Nya.  Hampir setiap 20 menit sekali, terdengar gemuruh dan luncuran awan panas yang dahsyat. Tak terbayang begitu kecilnya kita diantara ciptaan-Nya, Sekitar 2 jam dipuncak, pukul 8 pagi kita sudah diharuskan untuk turun. Hal ini dikarenakan jika semakin siang maka luncuran awan yang membawa material panas akan mengarah ke puncak Mahameru. Sangat berbahaya!!. Saat kita turun menuju Arcopodo, lagi-lagi kita dibuat takjub dengan medan yang kita lewati semalam. Terjal ,berpasir, kering penuh debu. Perjalan turun melewati celah-celah, mungkin dulu bekas kaldera. Istirahat di Cemoro Tunggal sejenak, dan kemudian dilanjutkan kembali ke Arcopodo untuk persiapan turun ke Ranu Kumbolo.
    Rombongan sampai di Ranu Kumbolo. DiTanjakan Cinta semua pendaki digeledah oleh tim SAR, semua sampah harus dibawa turun dan dilarang membakar sampah diatas. Dan lebih parah lagi bagi yang mencuri Bunga Edelweis. Tak tanggung-tanggung, mereka disuruh push-up dan kungkum didalam danau Ranu Kumbolo yang sangat dingin. “Pecinta alam tidak mengambil sesuatu kecuali Potret. Tidak meniggalkan sesuatu kecuali Jejak, Tidak membunuh sesuatu  kecuali Waktu” 

18 Agustus 2006

    Rombongan yang berjumlah 13 anak ini, sempat nge-camp lagi di Ranu Kumbolo. Dan sekitar pukul 10 siang, perjalanan pulang diawali. Turun dengan rasa Patriotisme dan bangga telah mencapai puncak tertinggi tanah jawa. Dan tentunya siap untuk mendaki puncak-puncak berikutnya.


“Karena Tuhan dan alam itu satu, dan satu itulah yang aku cinta”




SAHABATdariSURABAYA
Semeru, 14-18 Agustus 2006
(Seluruh foto ada di folder Ekspedisi Semeru dan Video diupload di MP ini juga)

Surabaya, 29 Agustus 2007
koHAN
kohan2282.multiply.com