Tampilkan postingan dengan label surabaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label surabaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 November 2010

Matahari terakhir dikota panas...

 

Lebah Biru..

Masih gelap... baru saja memasuki waktu subuh disebuah terminal yang masih asing ini. Subuh yang terasa lebih awal disini. Setelah 12 jam perjalanan panjang, diantarkan bus antar kota antar propinsi dari Purwokerto. Kami satu rombongan besar, lebih dari 15 orang. Berangkat bersama untuk memulai sebuah cerita baru. Mengawali sebuah perjalanan panjang dikota yang terkenal keras dan panas ini. Surabaya akan menggantung mimpi-mimpiku.

 

“Ponten” sebuah tulisan asing pertama yang kubaca disudut terminal ini. yang ternyata berarti TOILET atau WC UMUM. Aku tidak mengenalnya dalam bahasa itu di Jawa Tengah. Bersih bersih diri dan Sholat Subuh berjamaah di masjid Terminal Bungurasih. Titik awal yang aku mulai untuk mengenal kota ini, dan ternyata beberapa tahun berikutnya selalu menjadi titik pertemuan sebelum aku dan kawan-kawan di Surabaya melakukan perjalanan lain menyapa alam.

 

Pagi itu, akhir juli 2001. Aku dan beberapa kawan akan mempersiapkan sebuah lembaran panjang. Memulai dunia kerja dengan magang disebuah perusahaan berlambang Lebah Biru dengan moto ”Setia melayani Anda”. Diantarkan sebuah bus dalam kota bernomor P1 jurusan Bungur – Perak. Melawati jalan panjang dengan beberapa tugu terkenal menyambut kami, Patung Suro Boyo yang sedang bertarung dan Patung Karapan Sapi. Kemudian bus kota itu mengantarkan kami di Halte Tunjungan Plaza.

 

 

Sebulan kemudian aku tinggal di samping mall terbesar dan cukup terkenal di Surabaya saat itu. Di Kaliasin Pompa gang III. Menjadi bagian kota panas ini tidak pernah ada dalam mimpiku. Bahkan beberapa bulan sebelumnya aku sudah berkelana ke Jakarta untuk memperjuangkan hal yang sama. Dan akhirnya menjadi bagian dari kota panas ini. Tiga bulan kemudian perpindah kerja, masih tidak jauh dari lingkup lingkaran biru ini, bermain dengan kabel dan telepon rumah. Akhirnya tak terasa mengantarkaku 5 tahun berikutnya menjadi bagian darinya. Dengan berpindah pindah lokasi di Kebalen (dekat House Of Sampoerna) Wiyung, Lakarsantri dan Ketintang. 5 tahun menjalani sebuah pekerjaan yang sama dengan dasar ilmu saat di SMK, Jurusan Jaringan Kabel. Ah.. ilmu yang aneh, yang ternyata sampai sekarang pun masih aku gunakan menjadi jalan hidupku.

 

Techno Flower..

Setelah lima tahun bermain dengan kabel, targetku selanjutnya adalah mencoba dunia yang merupakan perkembangan teknologi darinya, Dunia Teknologi Sellular. Masih di dunia telekomunikasi yang memang sudah menjadi bekalku sejak memilih sekolah  kerjuruan di Jl DI Panjaitan Purwokerto. Berbeda dengan kerjaanku sebelumnya yang sebagian besar bermain fisik dengan jointing (penyambungan) kabel tembaga, kali ini bermain dengan routing dan angka angka sebagai seorang Core Engineer. Aku lebih menyebutnya dengan “ilmu ghoib” dimana, segala kerjaan yang dikerjakan lebih banyak bermain dengan remote remote perangkat. Alias perangkatnya dimana kerjanya dimana itu tidak penting yang penting komunikasi tetap berlanjut dan semua senang.

 

 

Awal tahun 2000 adalah awal perkembangan dunia telekomunikasi non kabel, teknologi Seluler mulai merajainya, dari komunikasi suara dan akhirnya sekarang ini komunikasi data menjadi kebutuhan utama mulai menggantikan kebutuhan komunikasi suara. Lihatlah persaingan semakin ketat, nilai rupiah seakan tidak  ada harganya lagi. Bekerja dibalik nama besar tentunya memberikan sebuah kenyamanan tersendiri, meskipun kadang juga kenyamanan itu semu. Dan pada saatnya akan mematikan bagi mereka yang terlena akan sanjungan itu. Dan aku terusik, setelah 3 tahun 9 bulan bekerja bersama bunga teknologi ini, setelah mencoba menimba ilmu tentang komunikasi jarak jauh. Akhirnya aku mengikui teman-teman yang sudah “lulus” mendahului. Mengejar mimpi dan berpetualang didunia teknologi tanpa batas yang terus berkembang pesat ini.

 

A100, A cepek...

Selama di Surabaya, aku punya teman sejati yang menemani sejak awal memasuki kuliah ekstensi hingga aku lulus mendapatkan gelar Sarjana Teknik.  Suzuki A100, bekas tukang pos, dengan sebuah lambang burung merpati yang masih tersisa diatas dok lampu depannya. Itulah bekal yang diberikan oleh kedua orang tuaku, saat aku memilih  untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Sarjana.

 

Kalo berjalan penuh asap seperti fogging DBD, dengan suara menggelegar seperti pembalap, tapi Cuma suaranya yang kenceng sedangkan motornya berjalan santai-santai saja...

 

Itulah motor butut yang menemaniku mengelilingi Surabaya, menemaniku bekerja, kuliah dan kadang sedikit jalan jalan ke kota. Hm... adakah yang cewe yang meliriknya, ternyata masih ada :”>.Saat kuliah motorku lebih dikenal dengan sebutan “Umplung Dancow” atau Kaleng susu Dancow karena tepat dibawah tangki bensin terdapat sebuah saringan udara berbentuk silinder seukuran Kaleng susu dancow... haha... julukan yang aneh dari temen temen kuliah.

 

Meskipun hanya A100 dengan kecepatan tidak melebihi 80km/jam. Sering aku ikut teman-teman kampus jika ada acara diluar Surabaya. Yah meskipun selalu nyampe terakhir yang penting tetep pede dan bisa bermain dan berkumpul dengan teman-teman kampus... hohoho...

 

 

Dan matahari siang ini bersinar terik

Meskipun awan hitam menggantung di beberapa sisinya..

Sedikit gelap tapi hangat masih menyelimuti bumi Pahlawan...

Hangat yang khas...

Aroma yang terampas...

Aku pasti akan merindukan teriknya...

Aku pasti akan merindukan peluh ini...

Dan aku pasti akan kembali...

 

Dan, siang ini aku menikmatinya sebagai Matahari Terakhir dikota Panas ini... Kota yang sudah 9 tahun 5 bulan ini mengenalkan saya pada sebuah kehidupan panas dan keras khas Surabaya. Setelah belajar dan berguru pada Lebah Biru, bermain bersama bunga teknologi... dan kemudian mengantarkanku untuk berlajar jurus Kipas Merah di ibu kota...

 

Semoga bukan kejamnya ibu kota yang akan menyambutku, tapi belaian ibu Muda yang akan memanjakanku dengan kemacetan dan kesibukan Jakarta...

 

.. nona muda juga mau... :”>

 

 

hans

www.trihans.com

Minggu, 21 November 2010

Ngonthel....

 

Sekitar dua bulan ini saya memelihara sebuah sepeda onthel torpedo yang beberapa bagiannya sudah disinggahi karat. Saya meminjamnya dari seorang teman kantor, tepatnya mencoba menyelamatkanya dari kerusakan yang lebih parah. Bagaimana tidak, si empunya membeli sepeda onthel kuno itu dari Jogja dan hanya dibiarkan terongok gak karuan di samping parkiran motor, lebih mengenaskan lagi sebagian diantara dengan bebas diterpa hujan dan panas. Maka berkaratlah bagian itu. Pertama kali saya meminjamnya dengan kondisi yang mengenaskan, beberapa karat lekat dan kedua ban-nya dalam kondisi kempes. Akhirnya dengan sedikit reparasi ringan bisa memulihkan si ontel yang sudah 4 bulan seperti tanpa tuan itu.

 

Beberapa kali saya menggunakanya untuk berkeliling disekitar kos sekedar untuk membeli makan siang atau untuk berangkat kerja jika dapat jatah masuk wiken. Cukup menyenangkan, apalagi saya sangat suka dengan jalanan. Menikmati tingkah polah manusia-manusia yang kutemui disana. Bukan hanya dengan sepeda ini, jalan kaki pun saya suka atau tepatnya sangat suka. Ketintang – Porong sejauh 25 km adalah rekor jalan kaki terjauh yang saya jalanani 2 tahun kemarin. Sisanya adalah jalan kaki disekitar kota Surabaya yang terkenal panas ini seperti ke Tugu Pahlawan sejauh 7km, juga beberapa kali ngantor sejauh 5km jalan kaki atau sekedar blusukan ke Pasar Wonokromo yang hanya berjarak 1 km dari kosku.

 

Sore tadi saya menikmati jalanan Surabaya dengan rasa yang berbeda, terasa lebih dalam dan lebih menikmati saya mengayuhkan pedal pada gir-gir rantai yang sudah lama tidak tersentuh oli ini. Hawa sejuk sehabis hujan, dan tentunya sebuah persiapan rasa lain yang sedang saya persiapkan untuk meninggalkan kota ini. Kota yang Sudah 9 tahun 5 bulan ini mengenalkan saya pada sebuah kehidupan panas dan keras khas Surabaya, dan untungnya saya bisa menikmati dan berbaur didalamnya tanpa harus kehilangan karakter.

 

Mengayuh dengan agak berat, karena sepeda ini adalah torpedo. Sepeda yang apabila kita mengayuh kebelakang (berlawanan dengan arah maju) maka akan mengerem pada poros roda belakang. Lebih berat lagi memang karena sudah cukup lama tidak ketemu dengan minyak pelumas. Dari Ketintang menuju ke kantor di Jalan Kayuun. Disekitar Wonokromo beriringan dengan keramaian simpul kemacetan. Mengayuh dengan lengang hingga sampai di jalan Diponegoro. Dari samping patung Suro dan Boyo khas simbol Kota ini saya menyebrang ke arah timur, melewati lampu merah kemudian memasuki Jalan Darmo.

 

Di Taman Mayangkara

 

Disinilah keisengan itu dimulai, membelokan arah kekiri sedikit tepat diantara bangunan kuno yang dulu pernah digunakan sebagai Musium Empu Tantular dan taman Mayangkara. Memarkirkan posisinya onthel di tengah dan mengambil beberapa gambar dengan hape. Bagitulah perjalanan ini dimulai, berhenti disetiap tempat-tempat menarik sepanjang Jalan Darmo sampai Jalan Basuki Rachmat. Yang memang sudah tertata Rapih dan memanjakan Pejalan kaki.

 

Sejak akhir tahun 2006 dinas pertamanan dan tata kota Surabaya yang dahulu di kepalai oleh ibu Tri Risma Hariyani telah sukses mengubah wajah kota ini menjadi lebih baik, beberapa taman dibangun dan selalu ramai menjadi tempat alternatif bermain bersama keluarga. Pedestrian juga dibuat lebih lebar dengan mengurangi lebar aspal. Karena kesuksesannya inilah beliau sekarang terpilih menjadi Walikota Surabaya. Dan sore tadi aku memulih menaiki ontel diatas pedestrian. Selain lebih halus juga tidak khawatir jikalau ada kendaraan yang iseng nyium dari belakang.

 

RSI Darmo

 

Beberapa persinggahan dipilih dengan model utama sang Onthel. Berhenti didepan Taman Bungkul, dibawah Plang jalan Begawan, Jalan Darmo, didepan RSI Darmo. Di depan RSI aku tertarik dengan sebuah prasasti yang ditulis dalam dua bahasa. Sayang sekali saya tidak bisa membacanya karena memang tidak terawat. Bangunan utama yang menjadi ikon RSI Darmo itu dahulunya ternyata adalah yang  dipakai Jepang sebagai Kamp Interniran Anak-anak dan Wanita. Setelah pasukan Sekutu datang, kamp ini diambil alih Let. Kol. Rendall. Pada tanggal 27 Ooktober 1945 gedung ini menjadi pusat pertahanan pasukan Brigjen Mallabay (sumber: wikipedia). Atau kalau melihat tanggalnya seminggu kemudian terjadi serangan besar-berasan arek suroboyo yang menewaskan sang Jendral.

 

Dari RSI rencana mau menyebrang di jalan Bintoro untuk menikmati Sembako-nya cak Mis, tapi sayang ternyata cak Mis sedang libur dan tidak terlihat keramaian di jalan itu. Akhirnya kembali mengayuh onthel ke utara, mampir sebentar di depan Wisma Wismilak, mengambil beberapa pose dan berpindah ke perempatan Dr Sutomo, terus keutara dan sampai di jalan Basuki Rachmat. Menyebrang Zebra Cross di depan Gramedia Expo kemudian kembali ke arah selatan dan perpose di depan patung Karapan Sapi. Patung pertama yang aku lihat saat aku pertama kali datang ke kota ini.

 

Dan perjalanan sore ini berakhir di Kantorku yang akan segera aku tinggalkan ini. menempatnya sama seperti saat aku “menyelamatkanya”. Besandar pada sebuah pilar di ujung utara Gedung Teknik Kayuun.



 

diseberang Taman Bungkul
di jalan Darmo
di Depan Patung Karapan Sapi

 

-hans-

www.trihans.com

Sabtu, 10 Juli 2010

House Of Sampoerna : Buruh Rokok yang menjelma menjadi Raja Rokok

Tangan-tangan cekatan, dengan gerak irama tubuh yang mengimbangi. Aku takjub sejak pertama melihatnya, semakin terkagum dan tak berpaling memperhatikan dengan seksama apa yang mereka kerjakan dibawah sana. Sepasang tangan menyiapkan kertas papir disebuah alat linting kayu yang sudah berumur, mungkin lebih tua dari umurku karena kegiatan ini sudah dimulai sejak tahun 60-an. Diatas kertas papir itu mereka meracik tembakau yang sudah diramu dengan aroma terjaga. Kemudian menarik tuas diantara pelinting itu dengan tekanan tertentu dan sebelah tangan membukanya dengan tangan kiri telah menyiapkan lem untuk merekatkan kertas papir tersebut. Maka terciptalah sebuah batang rokok dengan ramuan dan cita rasa khas yang selalu dijaga kualitasnya.

Disetiap tiga orang yang bertopi kuning sebagai pelinting tadi ada seorang bertopi hitam yang juga tidak kalah cekatan. Mengambil satu batang rokok memotong dengan tangan kanan disatu ujungnya, kemudian dengan irama yang serasi tangan kirinya memutar ujung rokok satunya dan memotong sisa-sisa tembakau yang keluar dari ujung ujung rokok kretek lintingan tersebut. Disudut ruangan lainya sekelompok orang bertopi merah menata batang-batang rokok itu kedalam kelompok kecil berisi 12 dan 16 batang. Menata dan menge-pack kedalam kantong kertas berwana hijau muda bertuliskan Rokok Kretek 234. 234 biasa dilafalkan dalam bahasa Mandarin, Djie Sam Soe. Semua gerakan itu dilakukan dengan irama dan kecepatan yang mencengangkan. Mereka seolah sambil menari mengikuti sebuah irama serempak yang memacu tubuh untuk tetap bergerak.



“Untuk mengimbangi proses itu memang pernah dilakukan penelitian dengan menggunakan irama musik tradisional untuk menyeragamkan gerak tersebut. Dimulai pagi hari dengan tempo yang lambat dan akan semakin bertambah temponya menjelang siang hari. Dan sebelum pulang disore hari, tempo akan diturunkan kembali”. Seorang penjaga museum bernama Mike memberikan sedikit penjelesan kepadaku dan Agoez.

Ini adalah kesempatanku yang ke empat mengunjungi House Of Sampoerna. Tapi di tiga kesempatan sebelumnya aku selalu datang kesini disaat tanggal merah, yang berarti juga hari libur bagi para buruh rokok kretek ini. Dan baru pertama kali aku melihat langsung proses pembuatan rokok dari lantai 2 dimana dahulu gedung ini pernah beberapa kali berganti fungsi, awalnya merupakan gudang Rokok, kemudian pernah menjadi Panti Asuhan Jaman Belanda dan juga pernah menjadi gedung pertunjukan kesenian, dimana tempatku melihat adegan melinting rokok tersebut adalah lantai dua untuk pengunjung VIP. Dengan disekat kaca tebal aku tak mampu mendengarkan keriuhan dibawah sana diantara buruh rokok tersebut. Yang ternyata saat aku melihatnya dari samping gedung yang kudengar adalah alunan music Orkes Dangdut dengan tempo yang cepat, sekitar jam 1 siang aku berkunjung ke HOS kemarin.

Dengan Pakaian serba hitam, pemandu museum yang terdiri dari anak anak muda menjelaskan singkat beberapa pertanyaan kami. Sesekali kudengar ia menggunakan bahasa asing saat seorang pengunjung dari luar negeri juga mengajukan beberapa pertanyaan. “Dalam satu jam rata-rata satu pelinting mampu menyelesaikan sekitar 325 batang, dan para pemotong (cutting) mampu merapikan sekitar 1000 batang rokok. Untuk proses Packing, satu pekerja mampu menge-pack sekitar 3000 batang dalam Pack Rokok siap jual dalam satu jam”. Sebuah penjelasan singkat dari penjaga HOS yang bertubuh gempal itu. Ingin rasanya terus bertanya sampai akhirnya aku kembali ke ruang pertama didekat pintu masuk.

Memang biasanya aku memulai kunjungan di HOS dari tiga ruangan yang ada dibawah, kemudian baru naik keatas. Namun karena aku teringat untuk melihat proses pembuatan rokok kretek tadi, aku mengajak Agoes untuk menuju ke lantai dua terlebih dahulu. Siang itu aku menemani teman teman dari Brantai Community yang baru turun dari pendakian ke Semeru. Brantai Community adalah komunitas pecinta alam yang beberapa kegiatanya lebih menunjukan kepedulian kepada dunia pendidikan di Indoensia. Beberapa kegiatan sosial telah mereka gelar di Sekolah-Sekolah Dasar terpencil. Aku baru mengenal komunitas ini akhir tahun kemarin. Dalam pendakian itu ada Mba Lisa, Agoez, Mas Mulyana, mba Nina dan 4 teman lainya, mereka berdelapan dalam pendakian tersebut.



Ada tiga ruangan dilantai dasar HOS, dan satu ruangan dilantai dua. Disambut dengan kolam ikan Koi kecil berbentuk lingkaran tepat didepan pintu utama. Lorong pertama ini berisi koleksi cikal bakal dari Pabrik Rokok Sampoerna. Benda-benda koleksi menarik yang sudah berumur dan bernilai histori tinggi bagi seorang Sampoerna. Surat Saham berharga pertama yang didaftarkan, 2 Sepeda ontel yang digunakan untuk menempuh Surabaya-Lamongan saat ia masih menjadi buruh rokok. Perabotan koleksi, lemari, meja kursi dengan ornamen ukiran jawa kuno. Miniatur tungku, gubuk warung tradisonal dan beberapa jenis tembakau local maupun dari luar negeri. Serta satu perangkat Slide Video yang menceritakan sejarah kedatangan seorang Sampoerna dari dataran Cina hingga sampai ke Surabaya mengisi sudut utara ruang pertama.

Di ruang berikutnya adalah koleksi Brankas kuno, lukisan-lukisan yang berbau rokok produksi Sampoerna. Ada juga lukisan rokok Kraton dengan foto Sri Sultan Hamengkebuono X dari Yogyakarta. Disebelah utara ruang ini ada satu koleksi menarik yaitu koleksi bekas bungkus korek api batang. Koleksi ini awal mulanya adalah milik seorang anak Belanda yang mengumpulkan kotak-kotak korek api sejak ia mengikuti keluarganya di Indonesia pada jaman Kolonial. Diatasnya terpampang Komisaris dan Direksi pemilik perusahaan rokok ini yang sebagian besar sahamnya telah dimiliki perusahaan asal Amerika, Philip Morris produsen rokok Marlboro.



Berpindah keruang ketiga, disini banyak berisi koleksi bungkus-bungkus rokok yang pernah dicetak. Beberapa rokok terkenal keluaran PT Sampoerna, A mild, DjiSamSoe, Sampoerna Hijau dan beberapa merek dagang lainya. Lengkap dengan sebuah mesin cetak kuno dengan master cetak logo 234. Melihat mesin cetak ini aku teringat dengan sebuah film buatan tahun 2008 yang dibintangi oleh Will Smith, sebuah drama Tragis tentang seorang yang maniak berbuat baik, hingga ia rela menyumbangkan organ tubuhnya untuk membantu orang yang butuh donor organ. Seven Pounds judul filmnya. Selain barang cetak itu ada juga koleksi perlengkapan dan foto pasukan Marching Band dengan warna dan lambang dominan A-mild merah putih, koleksi yang menarik dimana Marching Band dari Sampoerna ini pernah diundang di Disneyland Amerika.

Dengan dua tangga disisi kanan dan kiri ruang ketiga ini kita akan dihantarkan untuk memasuki lantai atas. Disisi tangga merupakan poster-poster konser yang pernah disponsori oleh perusahaan rokok ini. Ada Soundrenaline, Java Jazz dan beberapa acara musik lainya. Ruang diatas ini selain sebagai tempat untuk melihat proses pembuatan rokok kretek juga merupakan Souvenir Shop dari HOS. Mereka menyediakan beberapa barang koleksi yang menarik, ada kain batik, peta wisata beberapa daerah di Nusantara, juga merchant HOS yang berupa Kaos, PIN, gantungan Kunci, Kantong kain, Note book yang tentunya begambar anekaragam tentang HOS.

Dikoplek HOS ini ada beberapa Bangunan lainya seperti Café, Art Galeri yang kemarin juga ada pameran Mahasiswa arsitek dari Petra yang memaparkan konsep museum modern dari beberapa musem di Jawa timur. Dan Ada satu koleksi yang sebenernya cukup menarik, tapi ia berada diluar bangunan, sebuah Mobil Rolls Royce yang digunakan pemilik Sampoerna. Hanya saja letaknya yang diluar kadang kurang mendapat perhatian pengunjung.


Komplek HOS ini berada dijalan Kebalen, di Tambak Grinsing, tepat berada didepan Kantor Telkom Kebalen. Aku cukup mengenal daerah ini dengan baik, pernah kos selama 1,5 tahun hanya beberapa puluh meter dari HOS di Tambak Grinsing. Awal aku mencoba menjalani kehidupan di Surabaya dan berkantor di kantor Telkom didepan HOS tersebut. Untuk mencapai ke HOS dari terminal Bungurasih cukup naik bus kota satu kali jurusan Bungurasih- Jembatan Merah. Dan turun di bekas Penjara Kalisosok di Jalan Rajawali (tidak jauh dari Jembatan Merah), kemudian masuk kedalam sekitar 500 meter searah dengan jalan menuju ke kantor Telkom Kebalen. Lorong menuju ke HOS yang merupakan tembok penjara kini telah dilukis dengan lukisan tembok sepanjang gang tersebut sehingga menghilangkan kesan angker dan kusam dari penjara tersebut.

Untuk mengisi menu makan siang, kali ini aku mengajak rombongan dari Jakarta tersebut ke warung Lontong Balap Cak Pri, disisi selatan HOS. Cak Pri merupakan turunan ke tiga penjual Lontong Balap di HOS. Awal aku mengenalnya dia masih berjualan tepat sudut Pabrik Sampoerna, sekarang pintu gerbang HOS. Cak Pri mungkin sudah lupa dengan wajahku, setelah lebih dari 7 tahun tidak bertemu. Tapi aku masih mengingatnya karena aku teringat adegan pertanyaan anak Cak Pri yang mengira aku adalah orang Korea, selain kulitku putih mataku sipit persis penduduk daratan Tiongkok….Hyaaa!! bukan cuma sekali itu aku dianggap keturunan Cina. Karena cukup lama Cak Pri jualan di Sekitar pabrik Sampoerna, secara istimewa dia mendapatkan tempat di selatan HOS. Dan masih satu bangunan dengan HOS menghadap kejalan Kebalen.



Kunjungan kali ini aku akhiri dengan mengantakan teman-teman jauh ini menuju ke 2 Stasiun yang akan mengantar mereka ke Jakarta. Dari Stasiun Pasar Turi, Agoez dan 5 temanya akan ke Jakarta dengan naik kereta Kertajaya, Mas Mulyana akhirnya harus pisah dengan menggunakan kereta bisnis Gumarang, sedangkan mba Lisa aku antarkan ke Stasiun Gubeng karena tujuanya ke Bandung dengan naik kereta Mutiara Selatan.

**Sekilas kisah tentang HOS dan kunjungan team Brantai ke Surabaya, 7 Juli 2010. Terima kasih telah berkunjung ke kota panas ini, mohon maaf jika tidak bisa menjamu lebih baik…

foto 1 by Aji Rachmat (croping)
foto lainya dari Hape SE G502

Link:
official website HOS: http://houseofsampoerna.museum
foto-foto lain HOS disini dan disini
melihat HOS 360 derajat : www.360cities.net


-hans-
www.trihans.com

Senin, 15 Maret 2010

House Of Sampoerna bareng tante Suesan




HOS, With Tante Susan dan Hafidz ponakanya...

Pagi tadi dapet SMS dari mbakyu Susan, dia minta dianter ke HOS.... dan akhirnya aku janjiin siang hari kesananya, sekalian sorenya aku langsung masuk kerja. Diawali dengan mengelilingi Surabaya utara yang panas.. sampe juga di Surabaya Coretnya mba Susan, entah kenapa padahal sudah berkali-kali kesana masih aja diawali dengan sedikit gangguan jin, alias nyasar ke gang yang tidak seharusnya. Padalah dalam sejarah kehidupanku, aku ini orang yang sangat apal dengan jalan, gampang memetakan lokasi dengan mudah.... ee ke daerah yang namanya Platuk ini aku selalu tersesat. Bahkan setiap mau kesanapun aku merasa ada yang aneh.... mesti nyasar!!

Yang paling parah pernah nuntun motor masuk gang gang kecil yang panjaaaang. Kali ini nggak parah, hanya satu blok lebih cepat mengambil tikungan kekanan untung aja tembusnya masih dijalan yang sama.... :D

bersama tante Susan dan ponakanya yang ribut terus ngubek ubek ikan KOI di HOS.. aku memilih memainkan SE G502 ku, yang ternyata tidak bisa diajak kompromi untuk cahaya yang kurang, dan semua foto yg kuapload ini aku rezise dulu, biar nggak begitu pecah.. maklum mimpi jadi fotografernya baru kesampean jadi tukang foto kamera HP....haha...strata terendah fotografer. :">

Selamat menikmati, monggoh kalo ada yang mau dianter ke HOS....
Surabaya Panassss.... tapi ada aku pasti dingin...
 
;)

-hans-
muka jadi gosong kena panas Surabaya :(

Rabu, 11 November 2009

Irba dan Pasar Keputran Malam




12 September 2009.

Hampir tengah malem, ngaterin mas aji melihat dan hunting foto Surabaya Malam, sebelumnya sempet ngopi di jembatan MEER 2C, kemudian dilanjut ke sepanjang Jalan Irian Barat, dan Pasar keputran...

Semua foto diambil oleh mas Aji, dan pernah diupload di FB-nya

Sabtu, 31 Oktober 2009

SMILEY NATIONAL REPTILE CONTEST & EXHIBITON 2009

Start:     Nov 13, '09
End:     Nov 15, '09
Location:     BALLROOM GALAXI MALL SURABAYA
SIOUX - Lembaga Studi Ular Indonesia- akan ikut serta dalam SMILEY NATIONAL REPTILE CONTEST & EXHIBITON 2009, yang diselernggarakan di Galaxi Mall Surabaya pada pertengahan bulan November 2009 ini. Beberapa personil SIOUX akan datang langsung dari Jakarta dan Jogja, juga beberapa Muscle yang ada di Surabaya, termasuk Aji Rahmat sebagai salah seorang pendiri SIOUX juga akan hadir.

Yuk, kumpul dan belajar tentang berbagai reptil disini..


-han-

Jumat, 17 Oktober 2008

Surabaya memang panas...

date : Okt 17th, 2008
time : 13.15 pm

Iseng-iseng nyoba Aplikasi mainan, MyPhone Explorer, dengan aplikasi ini HP jadul ku (SE T610) jadi terasa barang mewah. dimana semua kontrol dan penggunan HP ku bisa aku lakukan di PC. Mulai PhoneBook, SMS/SMS Masal  dengan mudah, File Manager, bahkan sampai keypad-nya pun bisa  dikontrol dari PC..  nah iseng-iseng ada satu  fasilitas yang menunjukan Monitor, dimana kita bisa mengetahui kondisi HP kita saat itu, cukup lengkap mulai dari suhu batrei, kapatitas Batre, catuan, pemakaian arus, suhu Handset, kualitas sinyal, dan IMEI serta versi software yang digunakan.

Berhubung Surabaya yang panas minta ampun, disana-sini adanya orang sambat (mengeluh)kepanasan. Aku tertarik untuk main-main dengan  informasi temperatur dari Aplikasi ini, Uji coba pertama:  kondisi Normal kamar, Hp belum diapa-apakan, kondisi pertama ini Temperatur menunjukan sekitar 35 derajat Celcius baik untuk Batre dan Handset. Kamarku berada di lantai 2 dengan sisi-sisinya tidak ada bangunan yang lebih tinggi, memang cukup menyiksa jika musim kemarau seperti sekarang ini. tapi semua itu terabaikan olehku, buktinya ini adalah tahun ke enam aku menghuni kamar kos ini.

Uji Coba Kedua : Suhu luar Ruangan dibawah terik matahari langsung, HP kutempatkan dibawah jendela dengan terkena sinar matahari langsung, percobaan sekitar 20 menit, suhu yang didapat cukup mencengangkan 40 derajat Celcius untuk suhu Batre dan 42 derajat Celcius untuk suhu Handset.


Walapun percobaan ini masih jauh dari sempurna karena dipengaruhi suhu internal Handset, setidaknya menunjukan bahwa Surabaya Memang Panas.. Bahkan sampe sekarang (17/10) belum ada hujan yang mengguyur Surabaya. Sempat sekali hujan sekitar tanggal 10an kemarin (aku pas mudik..). itupun berakibat Matinya listrik sebagian kota. yang malah menambah panasnya hawa disurabaya, tanpa kipas angin maupun AC.. Huh Panaaasss!!

-hanya berharap hujan segera jatuh di surabaya-


Rabu, 02 Januari 2008

Jalan Sehat




18 November 2007, Balai Kota Surabaya
Jalan Sehat HUT ke 40 Indosat Surabaya,
sekali-kali jalan melewati seputar kota Surabaya. Start dan Finish di Balai Kota, melewati SMA komplek, Siola, Jl Tunjugan, Jl. Pemuda dan balik lagi ke Balai Kota. meriah euy...

Rabu, 17 Oktober 2007

Surabaia




Surabaya, 23 Agustus 2007 "Tidur disurga -Makan didunia biasa"
Dua hari berkesempatan menjamu temenku mas Cholis dari Jakarta yang sedang ada tugas di Surabaya. Kebetulan mas Colis dapet akomodasi penginapan di Hotel Surabaya Plasa.. wah itung-itung kesempatanku untuk merasakan nginep dihotel mewah ditengah kota Surabaya. kapan lagi... :))
Maklum wong Ndeso, biasa tidur kepanasan diantara suhu Surabaya yang memang bikin otak mendidih. Malem itu tidur di-bed yang nyaman, sejuk ber-AC. pagi-pagi nyempetin kungkum di bathtub...wah..wah.. ngerasa hidup disurga semalem. nah kontrasnya kehidupan dimulai pagi harinya, saat mas Cholis dapet jatah Breakfast, terpaksa (biasa ding!) makan pagiku seperti biasanya diwarung emperan sekitar kantorku di Kayoon... itulah kenapa pake judul "Tidur disurga -Makan didunia biasa".
Sebelum ke Bandara Juanda nyempatin muter-muter dikit keliling kota Surabaia...
"ku tunggu kedatangannmu kembali sobat..."
"tunggu aku dijakarta..."