Senin, 11 Februari 2008

168 Jam Dalam Sandera

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Meutya Hafid
Penyunting: Hermawan Aksan
Penerbit: Hikmah
Tebal: xviii + 280 hlm

Kita tentu masih ingat peristiwa penculikan yang menimpa dua orang jurnalis Metro TV, Meutya Hafid (reporter) dan Budiyanto (juru kamera), oleh Kelompok Mujahidin Irak (Jaish al Mujahideen) pada 15 Februari 2005. Selama 168 jam mereka disandera di sebuah gua di tengah gurun pasir Ramadi. Tak kurang dari Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono turut mengupayakan pembebasan bagi keduanya.

Bagi Meutya, peristiwa penyanderaan dirinya itu merupakan sebuah pengalaman berharga dalam sepanjang hidupnya. Sudah lama ia berniat untuk menuliskannya. Namun, karena kesibukan dan lain-lain, baru terwujud dua tahun setelahnya. Buku yang diberi judul 168 Jam Dalam Sandera itu, akhirnya diluncurkan pada Jumat, 28 September 2007 di Ruang Prambanan Hotel Sahid Jaya, Jakarta.

Lewat buku tersebut, Meutya hendak berbagi cerita kepada masyarakat, khususnya para wartawan di negeri ini, bahwa akhirnya tidak ada berita yang nilainya lebih dari nyawa. Di saat-saat yang dirasanya begitu dekat dengan kematian, ia baru menyadari betapa nyawa amatlah berharga dibandingkan berita sepenting apapun dan tak ada sesiapa yang dapat menolongnya kecuali atas kehendak Tuhan. Peristiwa selama 168 jam itu telah membuatnya belajar tentang kepasrahan total kepada Yang Maha Kuasa.

Selain itu, Meutya juga ingin mempersembahkan buku ini bagi perjuangan rakyat Irak serta para penyanderanya, Jaish Al Mujahideen, sebagai pemenuhan janjinya untuk memberitakan (peristiwa penculikan itu) secara berimbang. Lewat buku ini, Meutya juga menaruh harapan agar bangsa ini bisa lebih menghargai lagi profesi jurnalis yang kerap mesti mempertaruhkan nyawa bagi dua menit berita di televisi atau satu kolom kecil tulisan di koran.

Buku ini merekam secara filmis (dan emosional) adegan demi adegan yang dialami Meutya dan Budi sejak diculik di sebuah pompa bensin di Ramadi hingga disekap di gua dan kemudian dibebaskan tanpa tuntutan apapun. Sebagai sebuah memoar, buku ini cukup "jujur", personal, dan menarik karena dituturkan dengan gaya bercerita orang pertama (aku) dengan plot layaknya sebuah novel. Guna lebih menghidupkan cerita, Meutya juga mengisahkan secuil riwayat hidupnya semasa kecil hingga peristiwa tersebut terjadi. Mungkin bakal asyik juga kalau diangkat ke layar lebar.

Pujian bagi rancangan covernya yang menampilkan gambar "bersejarah" itu (Meutya dan Budiyanto di bawah ancaman senjata api dua orang penculiknya dari Kelompok Mujahidin Irak). Gambar tersebut bersumber dari para penculik yang lantas menyebarluaskannya ke seluruh jagad melalui jaringan siaran televisi.

Wanita cantik kelahiran 29 tahun silam itu semula tidak pernah bercita-cita bekerja sebagai jurnalis. Ia yang lulusan Teknik Industri Universitas New South Wales, Australia ini, mengaku kariernya sebagai reporter televisi bermula dari rasa ketertarikannya pada konsep televisi berita 24 jam di Metro TV. Acara pertama yang dibawakannya di stasiun tivi tersebut adalah e-Lifestyle sebelum akhirnya menjadi pembaca berita seperti sekarang ini.

Pada pengujung Januari 2005, Meutya tak dapat berkelit dari tugas yang diberikan atasannya untuk pergi meliput secara langsung pemilihan umum (pemilu) di Irak. Padahal, ia baru saja kembali dari tugas liputan pascatsunami di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Pemilu di Irak tersebut menjadi penting sebab itulah pemilu bebas pertama yang diselenggarakan setelah tergulingnya Saddam Husein.

Sebagai wartawan tivi dengan jam terbang lima tahun, Meutya telah cukup banyak mengantungi pengalaman meliput daerah-daerah "rawan" dan berbahaya. Ketika menerima penugasannya ke Irak, Meutya sadar bahwa ia akan terjun meliput ke sebuah wilayah konflik bersenjata yang setiap saat berisiko terhadap keselamatan jiwanya. Namun, tentu ia tak pernah bermimpi jika akhirnya ia benar-benar berada pada sebuah situasi riil yang mengancam keselamatannya. Ia diculik. Sungguh-sungguh diculik! Dan lima hari kemudian, ia yang biasa mewartakan berita kepada dunia, kini berbalik menjadi objek yang diberitakan.

Selain Meutya, penulisan buku ini juga melibatkan tim penulis pendamping yang terdiri dari Mauluddin Anwar, A.Latief Siregar, dan Ninok Leksono serta Hermawan Aksan (cerpenis/novelis) selaku editor.***

Sumber : Perca

Sabtu, 05 Januari 2008

shiftBAND




shiftBAND... sederhana penuh makna...
Band dengan personil nggak jelas. tergantung dari jadwal kerja shift, dan keahliannya juga nggak jelas.. tergantung siapa yang masuk. liat aja pic-picnya..kadang pegang gitar kadang nge-drum.. kadang bass.. kalo cape ya vocal aja...
terserah lah namanya juga "shiftBAND"....

Rabu, 02 Januari 2008

Jalan Sehat




18 November 2007, Balai Kota Surabaya
Jalan Sehat HUT ke 40 Indosat Surabaya,
sekali-kali jalan melewati seputar kota Surabaya. Start dan Finish di Balai Kota, melewati SMA komplek, Siola, Jl Tunjugan, Jl. Pemuda dan balik lagi ke Balai Kota. meriah euy...

Pizza Hut




nah kalo ada makan-makan pasti ada yang lagi punya hajat..
Bu Anik selamat ultah ya.. (udah lama..foto ini diambil 2 bulan kemarin).. maaf baru sempet upload.
di Pizza Hut - Delta Plasa Surabaya, suasananya boleh juga, cuma berhubung orang ndeso. nggak begitu suka Pizza..(biasa makan martabak telor :) ) makan satu aja udah kenyang, pingin coba Spageti yah.. keburu kenyang.. (padahal belum pernah!)..
kapan-kapan lah nunggu ada yang gratisan...

Techno Flower




Selasa, 01 Januari 2008

5th Anniversary "My Valhalla"


5th Anniversary
Jetis Kulon I/IX/67

31 Desember 2002
31 Desember 2007

Teduh..meneduhkan setiap langkah
Sesak..meluaskan rasa
cinta merambah setiap sudut ruang

aku masih disana..

menemani malam panjang sendiri
beruraikan kisah-kisah hidup
bersaksi tentang satu cinta yang pernah hadir
meski tak sepenuhnya aku mengerti

dan aku masih disana...

tertawa mengukir kenang
untuk masa lalu yang pernah ada
dan masa depan yang menanti
demi semua asa seribu harap
tak pernah ku mengeluh bosan karenamu
tak pernah...

karena aku setia disini

hingga saat nanti
sampai pada ujung langkahku
untuk melompat terbang bersama phoenix biru
meninggalkan semua yang terlintas
tanpa satu pun makna indah terlupa

aku bersamamu..
kini dan nanti..

Surabaya, 2 januari 2008 @ 12:26pm