Di savana kecil itu aku temukan satu kehidupan, sebuah peradaban indah yang dibangun oleh alam...
Selasa, 27 Oktober 2009
Senin, 26 Oktober 2009
Catatan 10 hari untuk Jambore Petualang Indonesia [1]
***
Tiga kali aku mengikuti trip panjang dijakarta, tapi tidak satupun capter yang aku buat, sekedar untuk mengingat langkah pernah dijalani, mungkin juga jejak yang pernah tertinggal. Ataupun tatapan baru yang akan selalu mengisi perjalanan kita. Ciee….. ya selain termotivasi dengan beberapa catatan perjalanan temen-teman dikepanitian JPI, aku juga pengin mencoba belajar menulis lagi, setelah beberapa bulan kemarin mulai jarang aku lakukan, mungkin juga ini salah satu efek negatif dari jejaring sosial yang berlatar biru itu.. OK, aku mulai dengan 10 hari cerita diperjalanan JPI ini, ada banyak kesan dan ilmu disana. Sesuatu yang sangat berharga yang akan sangat sayang jika terbuang tanpa satu tulisanpun untuk pembelajaran diriku nantinya…
***
Kita Mulai…
Surabaya, 1 Agustus 2009
Baru kali ini aku ngantor bawa ceril, cukup mengundang tanya penasaran dari petugas satpam di pos 1 dan pos 2 kantorku yang berada didepan pasar Keputran itu. Jangan-jangan bawa bom.. hehe.. kaya bom di JW Mariot kemarin, kan yang memasok bom kedalam hotel juga orang dalam hotel itu sendiri. Ceril 50lt yang penuh berisi persiapan selama 10 hari mendatang, berisi kebutuhan standar untuk hidup dialam bebas dan kebutuhan hidupku nanti selama di Jakarta. Karena sebelum keacara utama di Ranca Upas. Aku akan membantu persiapan panitia Jambore Petualang Indonesia di Jakarta. Semoga saja tenagaku tidak sia-sia nanti…
Dari kantorku yang hanya berjarak sekitar 3km dari pasar Stasiun Pasar Turi aku diantarkan untuk mengawali perjalanan ke kota Jakarta menaiki kereta Gumarang. Kali ini aku mengambil 10 hari jatah libur, dengan 6 hari cuti dan masing-masing 2 hari di awal dan diakhir adalah bonus libur pergantian shift. Jatah libur yang cukup menggiurkan yang bisa diambil kapan saja. Setahun ini saja aku sudah mengambil hampir 30 hari libur, dan semuanya aku gunakan untuk jalan-jalan, mulai dari ikut liputan team Jejak Petualang di Cangar, Amazing charity di Himatta, Nuansa ular di Malang, Trip ke Bromo, mudik dan ikut Nuansa Ular di Jogja, dengan rata-rata pengambilan hari libur 4 sampai 6 hari. Kebetulan aku bekerja dengan sistem kerja Shift, dimana jadwal yang sudah ada boleh diacak-acak dibawah tangan oleh satu team. Sesuai kebutuhan masing-masing personal dan bosku pun dengan sangat terbuka mempersilahkan proses acak-acak itu, dengan komitmen selalu ada yg jaga dikantor (meskipun bekerja long shift sampai 24 jam lebih) dan penagihan absensinya tidak berubah sesuai jadwal yang sudah dibuat.
3 tahun ini aku menikmati kerja Shift, memang awalnya merasa aneh, saat yang lain libur aku tetep bekerja dan kebalikanya saat yang lain bekerja aku bisa nyaman jalan-jalan. Lebih sumpek lagi saat ada libur panjang nasional, sudah dipastikan aku akan jadi anak kantoran full time…system kerja seperti ini sangat bisa dinikmati bagi orang-orang yang menikmati keluyuran sama seperti aku. Tidak begitu terikat oleh waktu, tapi harus tetep mempunyai loyalitas meskipun libur (lebaran/natal/tahun baru) harus rela jadi penjaga perangkat di kantor.
10 hari kedepan sudah ku-planing beberapa kegiatan padat yang akan mengisi liburan, atau tepatnya pindah kerja, dari yang biasanya mijitin keyboard dan ngelus-elus mouse mungkin nanti akan sedikit berkeringat disana. Tidak ada yang menarik salama berada dikereta, hanya ditemani seorang mahasiswi IPB yang juga berasal Surabaya.
[Hari Pertama]
Lapangan Banteng, Jakarta, 2 Agustus 2009
Masih 6 hari lagi menuju Jambore Petualang Indonesia 2009, yang baru pertama kali digelar oleh patualang-petualang muda Indonesia yang bergabung dalam Jejak Petualang Community dan juga dari berbagai elemen komunitas dalam satu Panitia JPI 2009.
Setelah 13 jam perjalanan dikereta bisnis dari stasiun Pasar Turi Surabaya sampai ke Stasiun Gambir, sekitar pukul 7 pagi itu aku memasuki kota Jakarta dengan disambut Tugu Monas yang menjulang. Jakarta yang mulai panas dan ramainya warga ibu kota yang sekedar menikmati liburan akhir pekan.
Masih dengan Cerilku yang cukup berat, aku berjalan menuju ke Lapangan Banteng. Sebelumnya aku sempet googling di wikimapia lokasi Lapangan Banteng, ternyata tidak terlalu jauh dari Stasiun Gambir, jadi aku berani ambil inisiatif untuk jalan kaki dari stasiun. Awalnya pengin masuk ke sekitar lapangan Monas, hanya saja aku tidak tau jalan masuknya setelah
Duduk sendiri menikmati pameran FLORA dan FAUNA melihat lihat muda mudi yang sedang asik pacaran ataupun olah raga. Sarapan kerak telor yang bikin seret minta ampun ditenggorokan…haha (wuih… berasa jadi orang jakarte’ pagi-pagi sarapan kerak telor, pancene cah edan :P )
Agenda hari ini adalah ikut kegiatan SIOUX Lembaga Studi Ular Indonesia, yang diundang oleh Komunitas Reptil Jakarta, untuk mengisi materi Ular di pameran FLONA itu. Ini juga ketiga kalinya aku ikut kegiatan SIOUX, sebelumnya di Nuansa Ular Malang dan Jogja. Kenal SIOUX berawal dari mas Aji yang menyuruhku untuk ngerapihin theme Multiply SIOUX Indonesia. kebetulan juga mas Aji adalah moderator milis Jejak Petualang dan pernah jadi prenseter di beberapa program petualangan tv dan juga salah seorang pendiri SOIUX.
Entahlah, dulu aku bener-bener nggak suka dengan acaranya mas Aji, yang lebih sering mendampingi Ulung Putri maupun Nuray Rifat. Selain karena aku bener-bener masih takut dengan hewan melata yang namanya Ular, juga merasa kasihan aja adengan ular-ular itu. Tapi seiring dengan kenal mas Aji dan SIOUX-nya, aku malah penasaran dan akhirnya ikut gabung menjadi Muscle Sioux, bukan karena banyak pengalaman tapi kerena penasaran ingin belajar dan mengenal lebih binatang yang sangat mematikan itu.
Pukul 9, satu persatu team SIOUX mulai kelihatan di tengah Lapangan Banteng, dibawah tugu orang yang sedang sedang berdiri dengan tangan terlepas dari rantai, mungkin merupakan simbol kebebasan. Acarapun dimulai, dengan rasa penasaran dan takut dari penonton (peserta apa penonton ya?). Pengenalan ular secara biologis dan maupun sesuai tingkat bisa-nya serta dengan ditunjukan jenis-jenis ular koleksi dari SIOUX, aku hanya bantu-bantu masang banner sambil temu kenal dengan temen-temen dunia maya yang selama ini hanya ketemu dimilis JP maupun milis Sioux.
Pukul 1 siang, diterik Jakarta yang tidak jauh beda dengan panas kota Surabaya, team berkumpul dan saling memperkenalkan diri, ada banyak nama-nama yang selama ini aku kenal dimilis, saat ini ketemu langsung, banyak juga wajah-wajah yang hampir setahun ini bertemu disetiap acara JPComm. Ada satu temenku yang setiap aku ke Jakarta selalu menyempatkan untuk menjemputku, NCH, temen 3 tahun kos di Purwokerto saat masih STM dulu.
Foto saat acara SIOUX dipameran FLONA ada di MP SIOUX
Bersambung...
Gigi-ku rimpil seperlimanya... mungkin ini yang bikin aku nggreges semingguan ini... oalah.. ngene tok, sesaat setelah patah ko suasana kembali normal...badai laut selatan seolah tak pernah lewat, apalagi sentuhan sisuter cantik..benar-benar tak terasa lagi... semoga bener dan tidak ada indikasi lain... ;)
Minggu, 25 Oktober 2009
Sabtu, 24 Oktober 2009
Kamis, 22 Oktober 2009
Minggu, 18 Oktober 2009
Tips dan Trik "BERTUALANG DI PEDALAMAN KALIMANTAN"
from : Dody Johanjaya
to : jejakpetualang@yahoogroups.com
dateSun, Oct 18, 2009 at 10:54 PM
subject[JPers] Tips dan Trik : BERTUALANG DI PEDALAMAN KALIMANTAN

"Tidak disarankan berjalan-jalan di hutan menggunakan sandal gunung apalagi sandal jepit. Sandal tidak melindungi kaki dari batu, patahan kayu tajam, akar dan lain sebagainya. Disarankan berjalan di hutan memakai sepatu, lebih baik lagi sepatu yg khusus digunakan untuk berjalan di alam bebas, karena biasanya punya alas kaki anti licin. Kaki yang sehat adalah segalanya di hutan agar kita bisa berjalan, bila kaki kita terluka maka 50% kemampuan kita bertualang di hutan berkurang."
Sungai-sungai di Kalimantan terutama di bagian hulu mempunyai karakter, badan sungai yang sempit, berbatu-batu, berjeram dan berarus kuat. Sehingga sarana transportasi andalan masyarakat di pedalaman Kalimantan adalah long boat (perahu panjang), perahu tempel (ces) dan ketinting (perahu kecil dengan penggerak mesin dengan batang panjang di bagian belakang ditambang baling baling).
Perahu-perahu ini digunakan sesuai karakter sungai yang ada. Menggunakan perahu apapun yang wajib kita bawa dan kita pakai adalah pelampung. Yang bisa berenang atau yang tidak bisa berenang, wajib memakai peranti penyelamat ini agar apabila kita terhempas keluar perahu, badan masih bisa terapung. Karena di jeram yang kuat, arus air bisa menyedot badan manusia ke dalam, hal ini sangat berbahaya, bagi perenang handal sekalipun.
Oh yah sebelum menyewa perahu ketintin, pastikan harga sewa sudah disepakati terlebih dahulu, apakah harga sudah termasuk minyak (bensin atau solar), makan minum awak perahu dan sebagainya. Buatlah kesepakatan diatas kertas, agar jelas dan ada bukti bila terjadi perselisihan. Bayarlah sewa perahu bila kita sudah sampai tujuan, kita kasih uang hanya untuk beli minyak.
Karena hampir semua perahu besar maupun kecil di Kalimantan tidak beratap. Panas dan angin langsung mengenai tubuh, maka disarankan menggunakan rain coat atau jaket hujan, topi dan pelindung mata (sun glasses). Rain coat, selain melindungi diri dari panas dan angin juga bisa menahan air hujan dan cipratan air sungai akibat jeram besar.
Awak ketinting biasanya dua orang, satu di belakang (motoris) adalah nahkoda yang mengemudikan ketinting, dialah pilot ketinting, orang nomor satu yang wajib dipatuhi segala perintahnya. Motoris adalah orang yg bertanggungjawab atas keselamatan ketinting dengan segala isinya. Kemudian orang kedua adalah juru batu yang duduk di bagian depan perahu. Juru batu adalah pembantu motoris orang kedua di perahu, dia kepanjangan tangan dan mata motoris, untuk mengarahkan perahu melewati jalur yg aman, menghindari batu yang menghadang dan memilih alur perahu melibas jeram-jeram yang menghadang, namun semua keputusan akhir yg diambil kemana arah perahu dijalankan tetap dipegang motoris.
Ketika naik ketingting, duduk lah ditempat yang disarankan oleh motoris jangan memilih tempat sehendak kita, seperti cari tempat yang nyaman dan enak, karena motoris tahu persis keseimbangan perahu. Duduk santai dan jangan membuat gerakan tiba-tiba dan tidak perlu. Ketinting didisain panjang dan ramping agar mampu membelah jeram dan meliuk-liuk diantara bebatuan dengan lincah. Maka berat barang bawaan pun perlu diperhatikan. Ketinting tidak mampu membawa banyak barang. Kalau barang bawaaan banyak maka kita butuh banyak ketinting untuk membawa barang kita. Saking kecil dan rampingnya ketinting, permukaan air sungai sangat dekat dengan sisi badan perahu, sehingga mudah sekali air masuk kedalam perahu, sehingga ketintingpun mudah terbalik.
Bila kita membawa peralatan elektronik, seperti lap top, mp3 player. camera digital, camcorder dan sebagainya, bungkuslah dengan plastik semua peralatan tersebut, untuk menghindari basah kena cipratan air sungai. Lebih baik lagi kalau semua peralatan elektronik tersebut dimasukan dalam dry box atau dry bag, sehingga kalau-kalau peralatan tersebut kecemplung ke sungai, atau perahu terbalik masih terapung dan bisa diselamatkan.
Kalau tidak ingin melelewatkan momen bagus disepanjang sungai, siapkan kamera dengan hati-hati dengan pelindung plastik. Ambil momen penting, kemudian masukan kembali dalam pelastik demikian seterusnya. Jangan coba-coba mengeluarkan peralatan elektronik ketika perahu melewati jeram, sangat berbahaya dan bereseiko tidak hanya ke barang namun jiwa kita. Berjaga-jaga agar kamera terlindung dari cipratan air yang sewaktu-waktu dapat menimpa tubuh kita.
Ketika sampai di tempat tujuan, motoris akan mencari lokasi yang aman untuk ketinting mendarat, kalau tidak ada dermaga maka yang dicari adalah tanah landai, batang pohon besar, atau batu besar. Jangan turun atau membuat gerakan tiba-tiba. Tunggu aba-aba motoris atau juru batu (pembantu motoris) di depan. Biasanya juru batu akan menambatkan dulu perahu di batu atau batang pohon. Kemudian dia akan memegang badan ketinting, setelah dirasa aman dan stabil maka penumpang dipersilahkan turun satu-satu.
Tidak disarankan
berjalan-jalan di hutan menggunakan sandal gunung apalagi sandal jepit. Sandal tidak melindungi kaki dari batu, patahan kayu tajam, akar dan lain sebagainya. Disarankan berjalan di hutan memakai sepatu, lebih baik lagi sepatu yg khusus digunakan untuk berjalan di alam bebas, karena biasanya punya alas kaki anti licin. Kaki yang sehat adalah segalanya di hutan agar kita bisa berjalan, bila kaki kita terluka maka 50% kemampuan kita bertualang di hutan berkurang.
Masuk pedalaman Kalimantan diusahakan membawa perbekalan makanan yg cukup, walaupun di pedalaman kadang ada warung namun harganya selangit. Kalau terpaksa kita mau berbelanja di warung, perhatikan baik-baik masa berlakunya, karena beberapa makanan instant masa berlakunya sudah habis, karena lama tidak terjual.
Pedalaman Kalimantan terutama Kalimantan Timur seperti di kawasan Sungai Kayan, Hulu Bahau atau di Taman Nasional Kayan mentarang kondisi alamnya masih alami di bandingkan kawasan lain. Di sinilah surga bagi satwa liar, kita kadang bisa menyaksikan satwa aliar minum air disepanjang sungai. Satwa yang kita saksikan diantaranya babuy (babi), pelanduk (kancil), payau (kijang), banteng, beruang madu, macan akar, ular dan sebagainya.
Walaupun mereka liar dan hidup bebas di alamnya, kita tidak perlu takut. Karena pada dasarnya satwa-satwa yang hidup di hutan takut manusia, mereka akan menghidari manusia kalau tercium baunya. Demikian juga dengan ular, mereka akan langsung kabur bila jumpa manusia.
Yang perlu diperhatikan disini adalah beberapa serangga yang berbahaya seperti lebah dan penyengat. Bila masuk hutan yg rapat perlu diperhatikan lintasan jalan yg akan dilalui, bila jumpa sarang lebah lebih baik ambil jalan memutar, jangan sampai kita mengganggu apalagi merusak sarang lebah, karena serangan lebah sangat mematikan, bila tidak ditangangi dengan cepat. Sama halnya dengan penyengat, sangat menyakitkan bila terkena badan. Nyamuk banyak di hutan terutama pada sore hari, semakin malam akan berkurang. Membawa lotion anti nyamuk sangat disarankan untuk menahan serangan nyamuk. Lotion nyamuk juga berguna untuk menangkal pacet yg banyak terdapat di areal hutan yang basah dan lembab.
Semoga tulisan singkat ini berguna dan bermanfaat bagi yang akan jalan-jalan di Kalimantan.
Selamat bertualang ..... jangan lupa selalu berdoa :)
Salam,
Dody Johanjaya
warungjp@gmail.com
(Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman bertualang ke pedalaman Kalimantan seperti, Hulu Sungai Mahakam, Hulu Bahau, TN. Kayan Mentarang, Hulu Sungai Kayan, Hulu Sungai Kapuas, Taman Nasional Betung Kerihun, Long Bawan, Long Alango, Long Pujungan, Apauping…..dan hulu sungai lainnya di Kalimantan, berjumpa dan hidup bersama masayarakat Dayak)
diambil dari milis JEJAK PETUALANG COMMUNITY
to : jejakpetualang@yahoogroups.com
dateSun, Oct 18, 2009 at 10:54 PM
subject[JPers] Tips dan Trik : BERTUALANG DI PEDALAMAN KALIMANTAN
"Tidak disarankan berjalan-jalan di hutan menggunakan sandal gunung apalagi sandal jepit. Sandal tidak melindungi kaki dari batu, patahan kayu tajam, akar dan lain sebagainya. Disarankan berjalan di hutan memakai sepatu, lebih baik lagi sepatu yg khusus digunakan untuk berjalan di alam bebas, karena biasanya punya alas kaki anti licin. Kaki yang sehat adalah segalanya di hutan agar kita bisa berjalan, bila kaki kita terluka maka 50% kemampuan kita bertualang di hutan berkurang."
Sungai-sungai di Kalimantan terutama di bagian hulu mempunyai karakter, badan sungai yang sempit, berbatu-batu, berjeram dan berarus kuat. Sehingga sarana transportasi andalan masyarakat di pedalaman Kalimantan adalah long boat (perahu panjang), perahu tempel (ces) dan ketinting (perahu kecil dengan penggerak mesin dengan batang panjang di bagian belakang ditambang baling baling).
Perahu-perahu ini digunakan sesuai karakter sungai yang ada. Menggunakan perahu apapun yang wajib kita bawa dan kita pakai adalah pelampung. Yang bisa berenang atau yang tidak bisa berenang, wajib memakai peranti penyelamat ini agar apabila kita terhempas keluar perahu, badan masih bisa terapung. Karena di jeram yang kuat, arus air bisa menyedot badan manusia ke dalam, hal ini sangat berbahaya, bagi perenang handal sekalipun.
Oh yah sebelum menyewa perahu ketintin, pastikan harga sewa sudah disepakati terlebih dahulu, apakah harga sudah termasuk minyak (bensin atau solar), makan minum awak perahu dan sebagainya. Buatlah kesepakatan diatas kertas, agar jelas dan ada bukti bila terjadi perselisihan. Bayarlah sewa perahu bila kita sudah sampai tujuan, kita kasih uang hanya untuk beli minyak.
Karena hampir semua perahu besar maupun kecil di Kalimantan tidak beratap. Panas dan angin langsung mengenai tubuh, maka disarankan menggunakan rain coat atau jaket hujan, topi dan pelindung mata (sun glasses). Rain coat, selain melindungi diri dari panas dan angin juga bisa menahan air hujan dan cipratan air sungai akibat jeram besar.
Awak ketinting biasanya dua orang, satu di belakang (motoris) adalah nahkoda yang mengemudikan ketinting, dialah pilot ketinting, orang nomor satu yang wajib dipatuhi segala perintahnya. Motoris adalah orang yg bertanggungjawab atas keselamatan ketinting dengan segala isinya. Kemudian orang kedua adalah juru batu yang duduk di bagian depan perahu. Juru batu adalah pembantu motoris orang kedua di perahu, dia kepanjangan tangan dan mata motoris, untuk mengarahkan perahu melewati jalur yg aman, menghindari batu yang menghadang dan memilih alur perahu melibas jeram-jeram yang menghadang, namun semua keputusan akhir yg diambil kemana arah perahu dijalankan tetap dipegang motoris.
Ketika naik ketingting, duduk lah ditempat yang disarankan oleh motoris jangan memilih tempat sehendak kita, seperti cari tempat yang nyaman dan enak, karena motoris tahu persis keseimbangan perahu. Duduk santai dan jangan membuat gerakan tiba-tiba dan tidak perlu. Ketinting didisain panjang dan ramping agar mampu membelah jeram dan meliuk-liuk diantara bebatuan dengan lincah. Maka berat barang bawaan pun perlu diperhatikan. Ketinting tidak mampu membawa banyak barang. Kalau barang bawaaan banyak maka kita butuh banyak ketinting untuk membawa barang kita. Saking kecil dan rampingnya ketinting, permukaan air sungai sangat dekat dengan sisi badan perahu, sehingga mudah sekali air masuk kedalam perahu, sehingga ketintingpun mudah terbalik.
Bila kita membawa peralatan elektronik, seperti lap top, mp3 player. camera digital, camcorder dan sebagainya, bungkuslah dengan plastik semua peralatan tersebut, untuk menghindari basah kena cipratan air sungai. Lebih baik lagi kalau semua peralatan elektronik tersebut dimasukan dalam dry box atau dry bag, sehingga kalau-kalau peralatan tersebut kecemplung ke sungai, atau perahu terbalik masih terapung dan bisa diselamatkan.
Kalau tidak ingin melelewatkan momen bagus disepanjang sungai, siapkan kamera dengan hati-hati dengan pelindung plastik. Ambil momen penting, kemudian masukan kembali dalam pelastik demikian seterusnya. Jangan coba-coba mengeluarkan peralatan elektronik ketika perahu melewati jeram, sangat berbahaya dan bereseiko tidak hanya ke barang namun jiwa kita. Berjaga-jaga agar kamera terlindung dari cipratan air yang sewaktu-waktu dapat menimpa tubuh kita.
Ketika sampai di tempat tujuan, motoris akan mencari lokasi yang aman untuk ketinting mendarat, kalau tidak ada dermaga maka yang dicari adalah tanah landai, batang pohon besar, atau batu besar. Jangan turun atau membuat gerakan tiba-tiba. Tunggu aba-aba motoris atau juru batu (pembantu motoris) di depan. Biasanya juru batu akan menambatkan dulu perahu di batu atau batang pohon. Kemudian dia akan memegang badan ketinting, setelah dirasa aman dan stabil maka penumpang dipersilahkan turun satu-satu.
Tidak disarankan
Masuk pedalaman Kalimantan diusahakan membawa perbekalan makanan yg cukup, walaupun di pedalaman kadang ada warung namun harganya selangit. Kalau terpaksa kita mau berbelanja di warung, perhatikan baik-baik masa berlakunya, karena beberapa makanan instant masa berlakunya sudah habis, karena lama tidak terjual.
Pedalaman Kalimantan terutama Kalimantan Timur seperti di kawasan Sungai Kayan, Hulu Bahau atau di Taman Nasional Kayan mentarang kondisi alamnya masih alami di bandingkan kawasan lain. Di sinilah surga bagi satwa liar, kita kadang bisa menyaksikan satwa aliar minum air disepanjang sungai. Satwa yang kita saksikan diantaranya babuy (babi), pelanduk (kancil), payau (kijang), banteng, beruang madu, macan akar, ular dan sebagainya.
Walaupun mereka liar dan hidup bebas di alamnya, kita tidak perlu takut. Karena pada dasarnya satwa-satwa yang hidup di hutan takut manusia, mereka akan menghidari manusia kalau tercium baunya. Demikian juga dengan ular, mereka akan langsung kabur bila jumpa manusia.
Yang perlu diperhatikan disini adalah beberapa serangga yang berbahaya seperti lebah dan penyengat. Bila masuk hutan yg rapat perlu diperhatikan lintasan jalan yg akan dilalui, bila jumpa sarang lebah lebih baik ambil jalan memutar, jangan sampai kita mengganggu apalagi merusak sarang lebah, karena serangan lebah sangat mematikan, bila tidak ditangangi dengan cepat. Sama halnya dengan penyengat, sangat menyakitkan bila terkena badan. Nyamuk banyak di hutan terutama pada sore hari, semakin malam akan berkurang. Membawa lotion anti nyamuk sangat disarankan untuk menahan serangan nyamuk. Lotion nyamuk juga berguna untuk menangkal pacet yg banyak terdapat di areal hutan yang basah dan lembab.
Semoga tulisan singkat ini berguna dan bermanfaat bagi yang akan jalan-jalan di Kalimantan.
Selamat bertualang ..... jangan lupa selalu berdoa :)
Salam,
Dody Johanjaya
warungjp@gmail.com
(Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman bertualang ke pedalaman Kalimantan seperti, Hulu Sungai Mahakam, Hulu Bahau, TN. Kayan Mentarang, Hulu Sungai Kayan, Hulu Sungai Kapuas, Taman Nasional Betung Kerihun, Long Bawan, Long Alango, Long Pujungan, Apauping…..dan hulu sungai lainnya di Kalimantan, berjumpa dan hidup bersama masayarakat Dayak)
diambil dari milis JEJAK PETUALANG COMMUNITY
Label:
dodyjohanjaya,
jejakpetualang,
kalimantan
Langganan:
Postingan (Atom)