Rabu, 03 November 2010

Kamar 13… di ketinggian 1830mdpl

-di Ketinggian 1830 mDPL-


Dalam dingin dan gelap malam, aku duduk sendiri diantara jalan licin yang dibuat berundak-undak ini, seperti anak tangga dengan batang kayu ataupun akar-akar pohon yang dibiarkan melintang dijalan. Gelap, sekitar 50 meter dibawah sana adalah Base Camp Cemoro Kandang. Pos pendakian Gunung Lawu yang berada di wilayah Propinsi Jawa Tengah. Sedangkan sekitar 500 meter disebelah timurnya adalah Base Camp Cemoro Sewu masuk dalam wilayah Jawa Timur. Malam itu aku mencoba menikmati kegelapan dengan duduk sendiri dalam rindangya hutan yang merupakan pintu masuk pendakian ke puncak dengan ketinggian 3.265 mDPL di perbatasan Jateng - Jatim.

Seperti biasanya jika aku melakukan sebuah pendakian, maka aku akan mencoba mengambil moment sendiri seperti ini. Entah saat dalam perjalanan maupun saat istirahat disebuah pos. Dan kali ini aku mencoba menikmatinya di pintu menuju puncak gunung Lawu. Kedatanganku kali ini bukanlah untuk melakukan pendakian, hanya ingin bertemu dan menjemput teman-teman dari Jejak Petualang Community yang melakukan pendakian masal. Tapi kali ini aku menikmati dingin angin diantara batang-batang pohon ditambah rasa gelisah, karena masih hanya sebagian kecil dari team JPers yang turun…. Sebuah status dari wall biruku, sempat kubuat saat menunggu:

    “Dalam lorong gelap rerimbunan menyambut kerlip headlamp kalian. Cepat pulang kawan, sudah sampai kembali di pos Cemoro Kandang “

Sebuah pendakian basah dan singkat, mereka baru mulai start pendakian jam 9 malam kemarin dan 24 jam berikutnya saat aku menanti di tangga-tangga licin ini, mereka sudah harus turun untuk kembali ke Jakarta dan beberapa kota disekitar jawa. Satu pilihan nekat yang mereka ambil. Belum lagi molornya waktu perjalanan dari Jakarta yang hampir 20 jam. Ckckck…. Sejak awal membaca itenerarinya pun aku sudah menebak akan melenceng jauh. Tapi biarlah, toh kali ini aku memilih hanya menjemput mereka. Ini sudah menjadi style-ku dalam menikmati persahabatan ini. tidak harus mengikuti kegiatan mereka, cukup mengantar atau menjemput mereka… atau bahkan hanya mengirimkan suara di sebuah kotak kecil berkedip bernama handpone, itu cukup. Meskipun tidak mengikutinya aku selalu terikat untuk mengikuti perkembangan perjalanan mereka.

Dan malam itu ditemani beberapa teman JPers yang sudah turun, kami membantu teman-teman lain yang susah payah melewati jalanan licin jalur Kandang. Ada Eko Jogja, Uchits, Jiteng, Faries dan Juppy. Beberapa kali kami naik turun membantu teman-teman yang baru turun dan menanyakan kondisi teman-teman yang lain. Sebuah sekenario evakuasi kecil pun diberangkatkan untuk menjemput seorang peserta yang cidera kakinya dipos 2 Taman Sari Atas. Aku tetap menuggu disini, beberapa meter diatas Pendopo. Sampai akhirnya wajah-wajah lusuh kecapean yang mulai aku temui, aku mengenal mereka… jauh lebih mengenal mereka dengan style ini dari pada mengenal mereka pada kehidupan yang mereka jalani sebenarnya. Ada Irda, Bule, Vincent,  Savanaers dan wajah-wajah lain yang belum begitu aku kenal. Tapi kegelisahan ini semakin mengigil, karena belum ada separuh dari jumlah team yang turun. Maka aku mengajak Jiteng untuk naik lebih dalam keatas.

Menunggu cukup lama dan akhirnya menemukan Juppy yang tertatih memapah Ana, Ada Jemmy yang juga sudah kepayahan mengandeng Riri dengan pandangan kosongnya, sangat kecapean kah?. Kuambil alih ceril Jemmy dan membantu Juppy. Ini baru sebagian kecil yang turun, tapi kondisi mereka sungguh sangat drop. Turun di Base Camp dan kemudian mengajak beberapa teman untuk naik kembali, kali ini lebih dalam dan lebih tinggi. Sampai akhirnya berpapasan dengan rombongan yang cukup banyak dari Diana dan Titi. Menunggu diatas dan kemudian turun kebawah kembali, Menunggu koordinasi karena masih banyak yang belum turun. Menjelang pukul 11 sebagian besar sudah turun di Base Camp Cemoro Kandang. Hanya team bang One berlima yang menginfokan bahwa mereka nyasar sampe ke tower, di bukit sebelah barat Hargo Dalem.

Pukul 2 dini hari, team Jakarta turun pulang ke bis mereka di Tawangmangu. Kembali ke Jakarta. Tersisa kami berlima yang akan menunggu 5 teman kami yang tetinggal diatas, yang kemudian menjadi 7 orang setelah diabsen ulang. Ada One, Redi, Dimas, Umar, Ahadi, Ikhwan, dan Heni. Serta saudara Ana, Raimon dan Ekta. Bukan meninggalkan tanggung jawab Panitia, tapi kami mengambil alih untuk tetap menunggu di sini. Mengantikan posisi mereka karena waktu kami masih senggang hingga beberapa hari kedepan.

Setelah semua peserta dan panita pertama turun, aku mulai menerima beberapa SMS dari mereka. Meminta update dan memberikan beberapa komando awal yang harus kuambil besok. Kemudian memasuki sebuah ruangan berukuran 4x5 meter disebelah utara POS Perijinan. Kali ini aku harus rela tidur kedinginan tanpa SB, karena memang tidak membawa dan tidak ada niatan untuk bermalam disini. 3 SB lengkap dengan penghuninya tidur nyenyak disampingku, entah siapa mereka, dan ternyata saat pagi berikutnya baru kuketahui, ada Hero, Vincent dan om Jon Kemon.

Pagi yang mulai sibuk, setidaknya untuk hapeku, bukan untuk kami berenam yang masih kedinginan dikaki gunung Lawu ini. dari teman-teman di Jakarta mulai menanyakan kabar yang sama tentang 7 sahabat kami yang tertinggal di atas. Aku yang tidak masuk dalam team pendakian ini pun tidak dapat memberikan gambaran jelas tentang kondisi teman2 yang tertinggal. Bang Boim, Bang Ori, Tante Nha, mengawali mengabsen hapeku pagi itu, menanyakan hal yang sama. Agak siang semakin banyak yang menanyakan. Bukan hanya dari Jakarta tapi dari seputaran Jogja, solo. Ada Mas Aji, Pak Kus Cartens, dan Mbah Jarody… dan masih banyak lainya. SMS pun sampe capek jembol ini membalasnya.  Bahkan mungkin ada yang tertinggal. (Maaf!)

Titik terang mulai ada. Ternyata 7 team yang tertinggal itu terbagi dalam 2 kelompok kecil, Si Ikhwan dan Heny ternyata menginap di warung mbok Yem, sedangkan team One berlima memang tersesat dan harus dijemput team SAR (detailnya silahkan baca Kronologi SAR JFH II di web Jpers..). Setelah semua jelas, dan tinggal menunggu team yang tertinggal turun. Rencanaku untuk pulang ke Surabaya sore ini ternyata harus diundur besok pagi. Karena sudah tidak ada angkutan L300 yang turun ke Plaosan kemudian melanjutkan lewat Magetan.

 

-Kamar 13-


Dan malam kedua di Cemoro Kandang ini kami semakin banyak, setelah ditambah team Ikhwan yang turun berlima, dengan Raimon dan Heni serta 2 orang temanya. Bersesakan kami di kamar itu, tapi cukup hangat.

“Mas, yang tidur dikamar 13 ada berapa orang” Tanya mas Eka, seorang team SAR AGL (Anak Gunung Lawu) yang baru aku kenal tadi siang, saat koordinasi SAR untuk menjemput One.
“ada 11 mas, ditambah 5 yang baru turun sore tadi” jawabku.
“kalo nggak cukup bisa di Mushola sebelahnya” mas Eka kembali menawarkan kepadaku.

Saat itu aku sedang bebincang denganya didepan pos perijinan, meskipun udara dingin tapi aku lebih memilih menikmati bintang yang lebih terang karena langit bersih tak berawan, dan sejak siang tidak ada hujan yang turun, berbeda dengan kemarin yang seharian diguyur hujan. Hanya beberapa kali kabut tebal menyapa dan menutup pandanganku. Malam yang cerah.

“Aku masuk dulu mas, pengin kenalan dengan yang lain” mas Eka berpamitan masuk ke kamar di sebelah pos ini.

Akupun mengikutinya dari belakang, satu dua cerita dimulai dengan kehangatan kopi. Dan asap rokok mulai memenuhi ruangan kecil itu, aku lebih memilih duduk disebelah pintu demi menemukan udara yang segar, meskipun dingin. Dimulai dengan perkenalan singkat dari kami masing-masing, lanjut ke cerita-cerita seputar Lawu dan akhinya aku menanyakan sebuah pertanyaan, yang menurutku adalah pertanyaan salah yang tidak seharusnya aku tanyakan.

“Mas Eka, kamar 13 itu apa, ko namanya 13… kan Cuma ada satu kamar?” dengan polos aku bertanya.

Dan sebuah jawaban singkat membuka jawaban panjang lainya tentang SAR LAWU. “ini kamar Evakuasi Mayat. Jadi setiap ada korban yang dibawa turun selalu dimasukan ke sini, dari pada dibiarkan diluar. Sudah puluhan mayat dengan berbagai kondisi yang masuk dan disemayamkan sejenak disini”

Benarkan!! Sebuah pertanyaan yang salah, yang awalnya kami ber haha hihi, akhirnya harus lebih merapatkan tempat duduk kami.

Kamar ini tidak terlalu luas, hanya berukuran sekitar 4x5 meter, dengan 2 jendela tanpa gorden dan sebuah pintu panjang. Ditembok sebelah utara dilukis dengan sebuah lingkaran berwana merah orange dan sebuah siluet biru gunung Lawu. Nama AGL membentuk setengah lingkaran diatasnya. Sedangkan disisi selatan berupa coretan coretan siluet seorang climber yang sedang bergelatungan di tebing, sebuah papan tulis bertuliskan nomer chanel frekuensi Handy Talky. Ada juga 2 buah tandu, 1 ditidurkan dan satunya berdiri bersandar. Hanya beralaskan tikar dan sebuah matras aluminium foil, pantas saja aku semalam kedinginan tidur disini. Apalagi aku hanya bermodalkan sarung, sarung yang selalu setia menemani perjalananku.

Disebelah barat ruangan ini adalah sebuah tumpukan berwana biru, aku dan bang Jon hanya berbisik menebak tumpukan seperti karpet itu, “Kantong mayat”. Tembok penuh dengan bercak cat merah seperti darah, dan beberapa celana Jeans lusuh dan robek robek tergantung disana. Menambah suram suasana kamar itu, apalagi penerangan yang hanya sebuah lampu pijar. Remang remang…. Sedangkan disudut selatan nya aku menemukan gulungan karpet yang di ikat, ahh… makin mirip bayangan manusia saja :(. Saat pembicaraan tentang SAR dimulai, aku sudah duduk diatas tumpukan biru itu bersama bang Jhon disisi barat. Duduk dalam keremangan sambil menebak apa yang sebenarnya sedang kami duduki ini…

Dan sebuah cahaya terang diatas sana, Pendopo, sangat menarik perhatianku dan bang Jon. Terlihat beberapa kali bang Jon dan aku terpaku pada cahaya diatas sana, ada apa? Entahlah.. cahaya disana sungguh tepat berhadapan dengan kami bedua, sehingga mau tak mau harus sering memperhatikanya. Diselingi cerita seram, saat dua sahabat mas Eka dari SAR AGL yang ikut nimbrung dengan kami, tentang cerita cerita SAR, penunggu-penunggu ghaib disetiap pos.. (yang sebaiknya tidak perlu saya hapalkan untuk menjadi bahan tulisan ini), cara membaca jejak korban, bahkan cara membaca sifat alam menurut ilmu yang mereka pelajari secara alamiah, dan tentunya ujung-ujung dari team pencarian SAR itu adalah ditemukanya mayat yang akan dibawa turun dan di istirahatkan sejenak di kamar ini… Kamar 13… atau lebih jelasnya Bangsal 13.

Dan malam itupun aku tak banyak bergerak, tidak lagi berani duduk sendiri di tengah gelapnya malam dalam rerimbunan hutan diatas pendopo Cemoro Kandang seperti malam sebelumnya. Tidak juga keluar sekedar menikmati dingin dan bintang yang malam itu lebih terang. Memilih meluruskan punggung dan merapatkan sarung dinginku ini….

 

*ada yang punya foto kamar 13?

 
-hans-
www.trihans.com 

Selasa, 02 November 2010

sebuah "Middle Earth" di Lawu...



Hujan disertai badai kecil menemani langkah kami yang tertatih menuruni jalanan ini. Pagi tadi kami merangkak menaiki batuan hitam  yang beberapa diantaranya tertata bagai tangga tangga yang tumbuh dari dalam tanah. Sebagian diantaranya kokoh seperti pintu gerbang menyambut kami yang melewatinya diketinggian 3000 meter diatas permukaan laut ini, dan kini kami harus kembali meuruni jalan ini untuk melangkah pulang setelah sesaat mengunjungi puncak Hargo Dumilah. “Naik dan turun lagi, huh!”. Tak ada lagi vegetasi rapat yang kami temui, lebih banyak rumpun edelweis dan bunga-bunga cantiqi merah yang tumbuh bergerombol dilereng terjal di sisi kiri, sedangkan sisi kanan adalah lereng jurang landai dalam. Tidak terlalu terjal tapi cukup membuat ngeri jika terperosok.
 
Badai tanpa penghalang menerpa kami yang hanya dibalut mantel tipis, cukup kepayahan melewati jalanan terbuka yang sedikit melingkar ini. Tetatih kami dalam langkah-langkah keci,l takut terpeleset karena licinya batuan juga karena beban berat dipunggung yang semakin berat. Ditambah masa air yang tanpa ijin merembes dalam tas punggung kami. Hanya ada aku dan wahyu, seorang teman dari Surabaya yang beriringan tanpa suara menikmati badai ini, sedangkan beberapa teman lain satu rombongan denganku tertinggal dibelakang. Bukanya tak mau menunggu, tapi kami terus tetap melangkah turun sampai di pos Cokro Srengenge nanti.
 
Angin bercampur derasnya air hujan, menemani setiap langkah untuk lebih hati-hati, apalagi tubuh ini telah letih sejak kemarin pagi melangkahkan kaki di puncak ketinggian perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini. Dingin yang menusuk tulang, menggertakan gigi-gigi kami yang bertumpu saat kedinginan. Jarak pandang terhalang air-air yang jatuh tidak lagi vertical kebawah, tapi miring kesegala arah sesuka angin kencang yang membawanya. Sungguh berbeda saat aku pertama kali melihat lembah panjang diatas ketinggian ini tadi pagi, terik yang terus mengawasi sejak dari pos Penggik, ditambah jalanan yang terjal tanpa ampun. Hingga akhirnya selepas dari sebuah belokan berbatu aku menemukannya.
 
“Middle Earth…” gumamku sambil sesekali membidik jalanan berkelok dan berakhir dengan jalan setapak panjang didepanku ini. Sejak kemarin pagi, dari pos Cemoro Kadang kami hanya disuguhi tanjakan terjal yang dibuat zig-zag dan membosankan, baru kali ini menemukan sebuah hamparan luas meskipun berada dikemiringan. Cukup memuaskan pandangan mata dan mengobati keletihan tubuh ini saat naik kemarin juga di hantam badai hingga harus istirahat di pos Penggik. Pendakian Januari 2007 bersamaan dengan 1 Suro. Saat kami tertatih dengan beban dipundak, beberapa kali kami berpapasan dengan orang-orang berbaju hitam yang medaki hanya menggunakan kain tipis, sendal jepit dan sebungkus bekal dalam tas keresek hitam.... dan kami sama-sama kedinginan dalam badai.... wow!!

 
vidoe:  http://www.youtube.com/watch?v=zNlggi9tjZ8     
pic: http://kohan2282.multiply.com/photos/album/8/Pendakian_Lawu
 
 
Pendakian Lawu, 1 Suro,Januari 2007
Hans-Wahyu-Pramono-Arif-Ari.... dan satu teman baru dari Pekalongan : Heri



Sabtu, 30 Oktober 2010

Ring Of Fire _ Menarinya Lidah Api

on twiitter @jepecom #RingOfFire_Indonesia

 

#RingOfFire_Indonesia Indonesia memiliki 130 gunung berapi aktif, 1 awas, 2 siaga, 18 waspada

#RingOfFire_indonesia berada diatas tumbukan 3 lempeng besar : lempeng benua eurasia,lempeng samudra hindi australia,lempeng samudra pasifik

#RingOfFire_indonesia terjadi rata-rata 6000 gempa per tahun, 17% diantara berpotensi merusak

#RingOfFire_Indonesia Letusan Gunung Tambora 10 April 1815 Gunung Tambora yang berada di Pulau Sumbawa, setara dengan 6 jt kali bom atom.

#RingOfFire_Indonesia Letusan Gunung Krakatau 27/8/1883. Erupsi menyemburkan batu dan abu setinggi 80 km, suaranya terdengar sejauh 200 km.

#RingOfFire_Indonesia Gempa di Banda Aceh 26/12/2004 8,5 SR. Tsunami: Aceh, Sri Langka, India, Bangladesh, Malaysia, Maladewa dan Thailand.

#RingOfFire_Indonesia Gempa di Yogyakarta 27/5/2006, gempa tektonik berkekuatan 6,2 skala Richter mengguncang DI Yogyakarta dan sekitarnya.

#RingOfFire_Indonesia di atas kulit bumi titik pertemuan sejumlah lempeng patahan dan area busur cincin api Pasifik (Pasific Ring of Fire).

#RingOfFire_Indonesia Danau Toba adalah sebuah danau vulkanik dengan ukuran panjang 100 km dan lebar 30 km, gunungnya seberapa gede ya??

#RingOfFire_Indonesia Diperkirakan Danau Toba terjadi saat ledakan sekitar 75.000 th yang lalu dan merupakan letusan supervolcano.

#RingOfFire_Indonesia Kejadian ini menyebabkan kematian massal dan kepunahan bberapa species. menyusutkan jumlah manusia sampai sekitar 60%

 #RingOfFire_Indonesia Museum geologi LIPI Karangsambung, Jawa adalah dasar benua yang terangkat 120 juta tahun yg lalu akibat tumbukan benua

#RingOfFire_Indonesia ingin mempelajari kondisi Geologi Indonesia ?? Kunjungi Museum Geologi Bandung

#RingOfFire_Indonesia Waspadai, kenali dan bersahabatlah alam disekitar kita...

 

-hans-

Rabu, 27 Oktober 2010

Cak Mis... Mangan "Pisuhan" wareg cuk!!

ada Krisdayanti, cucak rowo, keong racun dan kepala pusing..

Sebuah warung kaki lima akan sangat identik dengan dunia jalanan versi rakyat kelas ekonomi. Apalagi jika kaki lima itu berada di kota Surabaya yang yang kental dengan grammar “pisuhan” cak cuk-nya. Bagi saya yang asli Jawa Tengah tentunya akan merasa asing dengan bahasa-bahasa yang selalu bersliweran ditelinga kota ini. 9 tahun hidup dikota Surabaya tapi hati ini belum sreg utuk ikut ikutan menggunakan kosakata itu.

Contohnya:

Djancuk...!

Jangkrik...!

Ndasmu Pecah...

Mbokmu ancuk (Mother Fucker)

dkk

 

bu Tika ngitung bathi sak trek...

Nah bagi anda yang belum pernah mendengarkan Pisuhan versi kaki lima Jawa timuran, saya sarankan untuk mengunjungi warung kaki lima di jalan Bintoro ini. Lokasi sangat mudah dicapai karena dekat dengan jalan raya Darmo, jalan utama menuju tengah kota Surabaya. Pemiliknya adalah Cak Mis, yang dibatu oleh Ibu Tika sebagai Manager Marketing dan Pak Bowo sebagai peracik minuman handal.  Tidak ada yang istimewa dengan barang dagangan yang sebagian besar berupa gorengan atau jajanan pasar. Tapi yang menjadikanya unik dan istimewa adalah nama-nama yang diberikan untuk setiap makanan yang ada disana.

“Cak aku njaluk sembakone” pelanggan yang baru datang meminta sebungkus nasi.

“ iwak opo cak, kering bali daging opo kering bali telor” pelayanan pertama. “digondol mulih opo diciak kene” lanjutanya.

“Lapangane wes ono opo durung, ngawe sekrop opo kolam renang”

“Ngumbe opo? Mbok Nom, opo estewe”

 

wisatawan jepang dan Luken

Itulah introduce yang sering dilakukan antara pembeli dan penjual, bagi yang belum pernah kesana tentu akan bingung dengan  nama-nama yang digunakan. Apalagi mau makan bukanya dikasih sendok malah dikasih sekrop, belum lagi dikasih kolam renang…. Behh..

Tentunya pisuhan diantara mereka bertiga sahut menyahut saling meramaikan tanpa tedeng aling aling, yang menambah kebersamaan diantara kehidupan rakyat. Dan tentunya menambah kenikmatan jajanan versi kaki lima ini. Buka mulai siang menjelang sore hingga tengah malam. Saking larisnya sekitar jam 8 malam sembako yang dijual sudah dipastikan akan amblas dinikmati.  Bukan hanya orang-orang jalanan yang menikmati menu makanan disini, bahkan sebagian rakyat kelas menengah atas atas pun ikut menikmatinya, tentunya Tanpa undang-undang yang mengaruskan mereka membeli Pertamax :D

Untuk mempermudah jika anda berkunjung kesana, mari saya sebutkan beberapa istilah untuk makanan yang ada disana beserta nama keren yang diciptakan.

Sembako : Nasi bungkus (dibungkus dengan daun pisang)

Lapangan : piring yang terbuat dari logam. Biar awet gak mudah pecah.

Sekrop : sendok

Kolam renang : kobokan, air untuk cuci tangan (bukan untuk diminum !!! hahaha...)

lap Lambe : tisu (pembersih mulut)

Wong mlarat : Bakwan (dalam jawatimuran = ote-ote, ote-ote diartikan juga dengan tanpa baju, jadi karena tanpa mengenakan baju maka disebut wong mlarat = miskin)

Krisdayanti : sate usus yang dikasih bumbu bali(mirip rambut kritingnya Krisdayanti)

Keong racung : sate keong mas

Cucak Rowo : sate Telor Puyuh

Udang dibalik batu : sate udang

Kulit landak : sate kulit ayam yang digoreng kering

Cah elek : sate cecek (kikil)

Usus mbulet : sate usus yang goreng

Kepala pusing : kepala ayam

Pakan Doro : dadar jagung (makanan burung dara)

Lonte : lento, makanan yang biasa dicampurkan pada lontong balap terbuat dari kacangan

Tahu isi : tahu isi, tahu brontak

Martabak India : Martabak Telor

Guling : Lumpia

Spring bed : Pastel

Damp Trek : Molen (Dump Truk, molen: mesing penggiling semen)

Risoles : ?

Bantal : Roti goreng

Lumpur Lapindo : kue puding bubur sumsum

Mbok nom = Sinom (sak gallon = sinom satu botol aqua besar)

Estewe = Es the

..dan  lagi sebuah nama yang tidak kalah kontrofersialnya...

Kopi Ngac*ng (maaf!) = kopi Ginseng CNI

dan dulu ada menu yang tidak kalah uniknya...

Larangane Gusdur : didih (darah ayam, karena Haram sudah 2 th ini tidak dijual lagi)

 

Cak Mis, Bu Tika dan Pak Bowo

Demikianlah kosakata yang wajib diapalkan jika ingin berkunjung ke Warung cak Mis...kalo nggak apal juga nggak apa ding, dijamin wareg ngekek... Masih ada beberapa jenis makanan yang belum sepenuhnya saya hapalkan, Nanti jika ada kesempatan kesana lagi coba mengumpulkan materi lain untuk mengupdate tulisan ini. jangan dikira meskipun hanya berjualan kaki lima dengan satu grobak ala kadarnya Cak Mis, Bu Tika dan Pak Bowo pernah beberapa kali saya melihatnya di SBO TV dan TRANS TV... wow!!

“Bu Tika aku wis mari, mangan sembako sitok, ngombene Mbok Nom karo Estewe, Krisdayanti, Guling, Martabak India, Lumpur Lapindo…. Kabeh piro”

“Sembako..mbok nom estewe…. Jajan… kabeh Rp13,500,” bu Tika menghitung dengan kalkulator bakul berasnya.

“Suwun bu”

“Matur Kebacut” Cak Mis menjawab kalimat penutupnya

 

 

-cak hans-

www.trihans.com