Kamis, 08 April 2010

[4][Catper EASTJAVAGANZA 2010] Bumi Timur itu memanggilku kembali..

Kawah Candradimuka



Mas Aji men-sweeping dipuncak Pananjakan takut kalo ada peserta yang ketinggalan. Aku dan beberapa peserta yang lain memberangkatkan satu persatu Jeep menuju ke Lautan pasir dan kawah Bromo. Agenda pagi ini adalah makan pagi di Parkiran Jeep, dan melanjutkan untuk melihat Pura serta Kawah Bromo. Semua telah sepi, akupun orang terakhir yang menaiki Jeep terakhir, Jeep buatan tahun 1981 ini. Termasuk Jeep terbaru karena terakhir diproduksi tahun 1982. Dan rata-rata Jeep yang dipakai disini adalah buatan akhir tahun 70-an. Kendaraan dengan 3600cc ini meskipun sudah tua tapi masih cukup kuat untuk membawakan kami sampe kapuncak Pananjakan dan menembus jalanan terjal di TNBTS.

Makan pagi dilautan pasir dengan view gunung Batok membelakangi. Putri mengabsen satu persatu peserta yang berjumlah 76 ini. Cukup banyak, mungkin terbanyak dari sebuah trip yang pernah kuikuti. Saat absen ini lah, ternyata masih ada 4 peserta yang tertinggal Panjakan, dan mereka adalah team dari Surabaya, ya ampun… mba Emma, mas Toto, mba Nuning, serta satu temannya. Padahal aku sudah menunggu sampe Jeep terakhir dan mas Aji pun sempat sweeping diatas.

Semua peserta berencana mendaki ke puncak Bromo untuk melihat sebuah kawah raksasa yang selalu dijadikan pusat upacara adat Kasada, yaitu upacara masyarakat Tengger yang mensyukuri atas karunia di bumi Tengger dengan melempar berbagai hasil bumi kedalam Kawah Candradimuka. Jika acara ini berlangsung lautan pasir Bromo akan padat oleh ribuan orang baik warga tengger yang mengikuti upacara adat ini maupun pengunjung yang ingin melihatnya.

Kepulan asap sulfur dan bau belerang pekat menyambut satu persatu langkah meniti anak tangga disana, berapa jumlahnya? Akankah sama satu dengan yang lain? Tapi aku yakin cukup melelahkan kaki dan nafas mereka. Sedangkan aku yang belum tidur sejak kemarin siang, memilih untuk merebah diri disalah satu Jeep. Bersauna didalamnya dan terlelap hingga semua peserta kembali keparkiran Jeep. Masih tidak ada bosannya, diparkiran pun masih rame dengan berbagai pose andalan untuk mengabadikan waktu dengan lukisan cahaya. Dan aku terjebak lagi didalamnya…haha..




pic 1 by : mba dhyan
pic 2 bu : emmaku


bersambung...

[3][Catper EASTJAVAGANZA 2010] Bumi Timur itu memanggilku kembali..

Bromo yang dingin, tentunya...

Meninggalkan Madakaripura dengan kekecewaan untuk kedua kalinya. Kijang yang kami naiki melewati jalanan berliku dan semakin terjal menuju ke Cemoro Lawang. Desa terakhir dengan banyak hotel maupun penginapan warga. Info yang kami dapatkan team Jakarta sudah memasuki kota Madiun, masih cukup jauh untuk mencapai ke Bromo. Mereka terjebak macet sejak diawal sampai Cikampek, maklum karena ini merupakan weekend panjang dengan tiga hari libur. Tapi kasihan juga mereka pasti kecapaian dijalan, setelah lebih dari 24 jam didalam bus. Akhirnya malam itu kami berempat, aku, om Silo, mas Denny dan mas Bernadi menyiapkan beberapa sekenario untuk esok hari. Semoga sambutan yang kami siapkan dan dinginya Bromo mampu melepaskan lelah mereka.

Jam 1 malam ELF yang mengantarkan team dari Jakarta memasuki hotel Cemoro Indah. Makan malam ditengah malam, kemudian mengantarkan peserta satu-persatu kekamar penginapan1 mereka, Hanya istirahat sebentar karena jam 3 nanti semua yang ingin melihat Sunrise di puncak Penanjakan harus segera beranjak. Moment terbaik untuk menikmati keindahan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Seperti yang telah direncanakan, pukul setengah tiga aku keliling ke beberapa penginapan untuk membangunkan peserta yang masih istirahat, membangunkan tidur lelap mereka yang baru saja dimulai, maafkan kawan, tapi ini adalah yang terbaik dari pada melewatkan moment sunrise di Bromo. Setengah jam kemudian semua team berkumpul dan berangkat meninggalkan Cemoro Lawang menuju Pananjakan dengan 14 jeep yang disediakan.

Beroff-road ria dilautan pasir bromo yang gelap. Kawah Candradimuka dan gunung batok pun seperti ditelan padang pasir ini. Begitu gelapnya, seperti yang kutemui saat malam hari mengendarai motor Supraku disini, hal tergila yang kujalani demi mengharapkan hawa dingin Tengger. Tidak lebih dari satu jam perjalanan dengan menaiki jeep yang terus menanjak, sampailah kami di Pananjakan. Gardu pandang untuk mengamati aktivitas vulkanik di TNBTS yang dikelola oleh Perhutani dan TNBTS. Beberapa tikungan kami harus berjalan kaki, karena hari ini adalah weekend panjang, dengan cukup banyak pengunjung disini.



Hampir semua naik dan memilih tempat untuk menikmati view terbaik untuk menyambut Sunrise Bromo. Aku hanya memilih sudut hangat dipinggir tangga, tak berminat untuk melihat sunrise yang sudah pernah beberapa kali kutunggu disini. Melingkarkan sarungku dan sedikit mernyandarkan punggung diantara tangga dan pembatas. Tidak bisa terlelap karena dingin yang tak mampu kukuasai, tapi cukup menginstirahatkan tubuh ini yang belum tidur semalaman.

Aku baru beranjak ke atas saat pengunjung mulai rame bernarsis dengan background kawah Bromo dan Semeru. Beberapa frame diambil… bukan sih, banyak frame seolah tak ada habisnya dan tak ada bosennya mata kamera membidik laku dan gaya mereka. Haha… aku pun terjebak didalamnya, sedikit menikmati lirikan mata kamera.. mau eksis, narsis plis!!.

Sudah lebih dari jam 7, semua pengunjung yang menantikan view Sunrise Bromo dari Pananjakan juga mulai berpindah ke Kawah Bromo. Tapi begitu susahnya meredam rasa narsis akut yang kadung jadi tren masa kini dari team EASTJAVAGANZA. Mas Yudhi Blasco yang aku temui kembali disini, membawa 2 kamera DSLR nya. mas Yudhi dengan konsep Wisata Gaya-nya, mengabadikan moment menarik dari event ini mengajak kami untuk berwisata sambil bergaya. Dan ada satu lagi Event yang digelar oleh Lare Angon Indonesia ini juga diliput oleh O chanel, sebuah TV lokal di Jakarta dengan program Backyard Adventure yang tayang setiap hari minggu malam pukul 20:00.



pic by: emmaku


bersambung...

[2][Catper EASTJAVAGANZA 2010] Bumi Timur itu memanggilku kembali..

Madakaripura, keindahan air terjun dengan Giude yang mengerikan

Subjudulnya ko mengerikan gitu….
Bukanya mau menutupi keindahan air terjun alami ini. Tapi aku ingin menuliskan dengan jujur tentang kondisi disini, semoga ada pengelolaan yang lebih baik dari dinas Pariwisata Probolinggo maupun Jawa Timur.



Memasuki lembah panjang yang dingin, disambut gerimis dan kabut dingin khas pegunungan Tengger. Air terjun Madakaripura ini terletak disebelah selatan Tongas, kota pertama memasuki Kabupaten Probolinggo. Sejalur dengan Jalan menuju Ke Cemoro Lawang Bromo dengan mengambil arah ke kanan dipertigaan besar pertama sebelum Sukapura. 5 km melewati jalan aspal dengan kontur naik turun dan akhirnya seperti memasuki lembah dalam dengan kanan kiri berupa punggungan bukit memanjang.

Om Silo menawarkan untuk meninggalkan team Jakarta, karena team Jakarta yang terlambat dijadwalkan ulang akan ke Madakaripura esok siang setelah dari Ranu Pani. Baru saja kami turun dari kendaraan sudah disambut dengan puluhan warga disana, ada yang berjualan dan ada yang jadi tukang parkir maupun sekedar meramaikan kawasan wisata yang pernah dikunjungi Gajah Mada ini. Gerimis masih turun mendinginkan dan membasahi, team pertama ini memutuskan untuk tetap turun ke Air terjun dengan melawati jalanan setapak yang rusak karena longsor, dengan beberapa kali menuruni aliran sungai.

Beberapa warga ada yang turun membantu. Aku hanya sempat mengingatkan beberapa dari peserta yang aku kenal, karena mereka adalah guide yang akan minta bayaran dibelakang nanti setelah kembali tanpa ada pembukaan harga diawal. Bisa dibilang pemerasan, karena mereka mematok harga yang cukup mahal, 50rb untuk menenamani satu orang. Padahal menurutku, satu rombongan pun sudah cukup dengan satu orang. Toh mereka hanya menunjukan jalan dan sedikit nakal dengan mengambil kesempatan menggandeng tangan pengunjung wanita. Tanpa pernah berbicara menceritakan sejarah Madakaripura dengan patung dan tugu Gajah Mada-nya.

Aku pernah ke air terjun ini 2 tahun yang lalu, kondisi-nya masih sama, Jalan setapak yang rusak tanpa perbaikan meskipun retribusi wisata tetep diminta kepada pengunjung. Dan masih sama pula dengan Guide yang memaksa kami untuk memakainya, kebetulan 2 tahun kemarin aku hanya dalam rombongan kecil hingga mudah untuk memantau. Dan tawar menawar kami lakukan diawal, dengan hanya 20rb dan hanya satu orang yang mengguide kami.

Air terjun ini memang berbahaya, karena secara alami merupakan aliran sungai. Dan pengunjung harus memasuki cekungan dalam dengan sisi kanan kirinya merupakan tebing curam berlumut dan ditumbuhi semak basah. Air mengalir dari sisi sebelah kiri, jatuh dibeberapa sisi membentuk satu view yang unik, dengan satu air terjun utama berada didalam cekungan harus sedikit merangkak menaiki tebing licin dengan batuan rapuh. Inilah Madakaripura.

Hanya sebentar kami menikmatinya, gerimis masih saja turun dan sangat berbahaya karena bisa saja air bah tiba-tiba datang mengahanyutkan kami. Beiringan kembali kami keparkiran mobil. Dan apa yang aku ceritakan diawal terjadilah, mereka yang menamakan Guide meminta uang kepada kami yang tidak merasa meminta menggunakan mereka. Ada sekitar 7-10 orang yang meminta secara langsung kepada pengunjung yang merasa mereka “gandeng”. Om silo masih berdebat dengan kepala pengelola disana, dan seremnya orang yang menamakan guide disana mengeluarkan berbagai senjata tajam khas jawatimuran. Meskipun tidak menunjukan secara langsung untuk mengancam kami, tapi secara psikologis jelas mereka menekan kami. Padahal ini berada di objek wisata, tapi kami menerimanya demikian. Bolehlah mereka menamakan guide, tapi sebaiknya diutarakan diawal, bukanya menodong setelah selesai dengan harga yang tidak wajar dan tanpa cerita apapun yang kami terima tentang Madakaripura.

MADAKARIPURA, silahkan berkunjung, ajaklan orang teman lokal yang mengerti kondisi disini serta bisa berbahasa jawa timuran atau lakukan nego harga diawal dengan guide jika ingin menggunakannya.


pic by: emmaku



bersambung...

[1][Catper EASTJAVAGANZA 2010] Bumi Timur itu memanggilku kembali..

Hujan menyambut kami disavana ini, kabut tiba-tiba menutupi keindahan dan kemegahan alam yang selalu aku rindukan. Savana Bromo… Sebuah lembah dingin diketinggian 2000 meter, dalam sebuah cekungan kawah purba yang masih meninggalkan kemegahan dijamanya, ilalang hijau basah menyambut kami yang mengunjunginya diujung musim hujan ini. Ujung… tidak juga, dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) saat aku masih Sekolah Dasar dulu. Bulan April adalah awal musim kemarau, tapi tidak sekarang ini disaat dunia meyerukan issue Global Warming dan perubahan cuaca dunia. Dibulan April ini malah hujan lebih sering turun mengguyur tanah jawa.

“Suku Tengger yang tinggal di Ngadas jalannya lewat mana pak” Tanyaku pada pak sopir jeep.
“Bukan Suku Tengger mas, tapi Masyarakat Tengger. Karena kalo ada suku berarti ada kepala suku” Pak Sopir mencoba menjelaskan kesalahanku dalam menganggap Tengger adalah sebuah suku yang mendiami beberapa desa disini, tapi Tengger adalah nama daerah didataran di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini. Seperti di Catper yang pernah kutulis di Blog MP ku “Ranu Pani – Love Never End”. Bahwa Masyarakat tengger mendiami beberapa desa dalam 4 wilayah kabupaten yang membatasi pegunungan Tengger ini. Kabupaten Malang di sisi Barat Daya, Pasuruan disisi Barat Laut, Probolinggo disisi Timur Laut dan Kabupaten Lumajang disisi Tenggara.

Siang ini kami yang tergabung dalam satu trip EASTJAVAGANZA akan mengunjungi Ranu Pani Sebagai salah satu tujuan kami mengexplor Taman Nasional ditengah-tengah Jawa Timur ini. Dengan maskot Utamanya view Kawah Bromo dari Pananjakan dan Puncak Mahameru.

***

Perjalanan kumulai dengan menyambut team EASTJAVAGANZA dari Surabaya, dengan start point pertama di Taman Bungkul segera dialihkan ke kos temannya mba Nuning dan mba Emma disekitar Ngagel Madya. Beberapa kontak yang kulalukukan dengan team dari Jakarta, ternyata mereka terjebak macet dan baru memasuki Brebes jam 6 pagi ini. Akhirnya aku berinisiatif untuk mengabulkan doa mba Emma untuk mengunjungi House Of Sampoerna. Doa yang terucap disebuah komentar foto saat aku menemani Susan awal Maret Kemarin. Dan ternyata Doa itu dikabulan secepat ini.

Pukul 9:40 kami yang terdiri dari mas Denny team LareAngon yang akan menemaniku dari Surabaya, dia dikirim oleh mas Aji untuk membawakan Kijang LSX merah yang kusiapkan untuk membawa team Surabaya ke Bromo. Mba Nuning, cewe jauh dari Nusatenggara yang berdomisili di Bandung, ternyata masih satu sabahat dengan Mba Emma gadis berjilbab dari Sukabumi. Dengan Mba Emma ini aku baru sekali bertemu, sebelumnya hanya mengenal nama dari temen-temen milis pendaki maupun dari Multiply. Dan satu lagi teman mereka berdua, namanya Mba Linda yang akan menemani hanya sampai di HOS.


20 menit yang aku sediakan untuk menikmati HOS ternyata molor jadi satu jam. Terasa kurang saat kita menikmati keunikan dan keindahan barang-barang koleksi HOS yang sangat bernilai jika hanya sesaat. Dan akupun menikmatinya kembali, meskipun ini bukan saat pertamaku. Cuma satu yang aku sayangkan, kedatanganku ke HOS selalu bersamaan dengan tanggal merah. Sehingga aku tidak bisa melihat se cara langsung pembuatan rokok Dji Sam Soe, yang sampai saat ini masih diproduksi secara manual oleh buruh Rokok. Dari lantai dua HOS disuguhkan sebuah pemadangan dengan view pekerja rokok yang sedang meracik rokok kretek terbaik andalan Sampoerna yang sebagian sahamnya telah dimilki oleh Philips Moris, pemilik merk dagang rokok Marlboro.

Setelah memaksa sambil menyeret mereka untuk meninggalkan HOS, karena aku sudah ditelpon Om Silo, team leader dari Malang. Yang menginfokan team Jogja dan Team Malang telah mendekati RM. Tongas Asri, meeting point kedua sebelum melanjutkan ke Madakaripura.
Jalanan TOL Perak-Porong sepanjang 51 km yang lancar tapi diujung tol harus terjebak kemacetan Porong, efek luapan lumpur yang semakin menyiksa perekonomian Indonesia Timur. Hampir 4 tahun (sejak 29 Mei 2006) berbagai solusi belum terpecahkan untuk mengatasi semburan itu. Jalan tikus akhirnya jadi pilihan meskipun memasuki jalanan sempit dan tentunya biaya yang lebih mahal karena lebih dari 7 ti tik cepean yang kini telah beruhan menjadi ribuan. Dari jalan tikus disisi barat jalan porong itu ternyata telah dimulai pembangunan TOL penganti jalan TOL Gempol yang terlah terendam lumpur.

Lepas dari kemacetan Porong tak ada hambatan berarti yg kami temui hingga akhirnya menjelang pukul 2 siang team Surabaya merapat ke RM Tongas Asri. Tak banyak yang aku kenal disana, hanya Om Silo, modetor Jaw a Timur disalah satu milis yang aku ikuti dan mengenalkanku dengan dunia komunitas online yang menyimpan banyak cerita dan orang –orang menakjubkan didalamnya.

“saya mba Dika. Bukan mas Dika” seorang cewe Jogja yang aku merasa tidak asing dengan wajahnya padahal tidak pernah kenal sebelumnya. Aku memanggilnya mas saat pemesanan kaos dan beberapa koordinasi kecil kemarin. Dan satu lagi Arninda, aku kenal wajahnya karena baru kemarin dia meng-add FB ku. Sisanya aku baru memulai menjabat tangan mereka, dan masih belum loading untuk nge-save nama mereka dimemoriku. Nanti juga akan kenal dengan sendirinya…


pic by : emmaku

bersambung... sampai 7 postingan berikutnya :D ..


Sabtu, 20 Maret 2010

Motion By Design

http://www.motionbydesign.net/blog/

...pengin mendalami grafis lewat intenet.. :)