Senin, 13 Februari 2012

Senja Jingga...

 

Tiga Jam lamanya dan kemudian seperti terlepas dari siksaan itu, rasanya seperti menemukan kehidupan baru. Pyuh…!! Setelah melewati tanjakan berbatu yang terjal di antara semak dan ilalang, beberapa kali berjalan melipir memutari jurang dalam yang terbuka. Nyali ini begitu diuji, adrenalin-adrenalin seperti mengalir memompa jantung ini lebih cepat. Hampir putus rasanya. Perbelakan yang ku packing rapi dipunggung ini pun semakin tak nyaman. Backpack dengan airsystem yang katanya mampu mengurangi rasa berat, nyatanya terasa semakin berat saja. Belum lagi tanjakan dan turunan yang entah berapa puluh kali kulalui. Inikah yang kucari? Melepaskan kepenatan diri dari sesaknya mimpi-mimpi di ibukota?

 

Ayak-ayak, memang mantap melewati jalur yang berlabel merah ini. Kendati sudah di tutup untuk jalur pendakian umum, tapi masih saja jadi pilihan diantara kami yang merasa tertantang dan butuh sensasi gila. Tentunya kami melewati nya dengan sembunyi-sembunyi dari Ranger TNBTS. Kali ini aku memilih jalur ini, sekedar ingin mencoba karena Jalur Ranu Pani–Ranu Kumbolo yang lebih landai melewati Pos Watu Rejeng sudah pernah kulewati beberapa kali. Dan perjalanan kali ini pun kujalani untuk mengobati kerinduan yang memuncak, setelah sekian lama berdiam diri diantara kubikal-kubikal yang  lebih senang aku menyebutnya sebagai meja eksekusi atas sebuah status pendidikan.

 

Batuan rapuh yang tidak mempunyai cengkraman kuat diantara tanah-tanah dingin yang juga hampir sama tanpa ikatan kuat dari akar hijau. Hanya ada ilalang di sepanjang bukit ini, sedikit di sisi disebelah kiri yang ditumbuhi rimbun pepohonan, sedangkan sisi kanannya adalah jurang dalam tanpa pelindung. Apakah seperti itu perasaan yg menemani perjalananku ini. Dan sepertinya hampir sama, seperti berada di titik tejauh dari kehidupan, saling memperhatikan tapi tak ada ikatan yang menyatukan. Dan aku berada disana, diantara kebimbangan itu. Berjalan sendiri di sabana panjang ini, mengikuti jalan setapak yang kadang akupun ragu, akan dibawa kemana langkah kakiku ini.

 

“Kamu jadi mendaki ke Semeru?”

“Sendirian kamu kesana? Kenapa teman-temanmu tidak ada yang kau ajak” teringat kata yang tercipta di beberapa malam terakhir, yang terus menghawatirkanku. Memang bukan pertama ini aku ke Semeru, tapi kali ini aku berjalan dengan perasaan hati yang berbeda. Yang dulu lebih banyak dikejar oleh pemenuhan ambisi dan egoisme dimana tak pernah ada tawaran yang kutolak dari ajakan pendakian. Tanpa memperhitungkan berapa kali aku pernah kesana dan apa yg kucari. Perjalanan kali ini sepertinya ada sesuatu kerinduan membuncah yang harus segera kuluapkan, Ya… mungkin seperti letupan awan panas yang masih sering keluar dari Kawah Jonggring Saloko diatas sana.

 

***

 

 

Sore ini, kabut tipis menyelimuti danau indah di tengah Pegunungan Jambangan yang tercipta dari massive kawah yang membeku. Dingin yang menusuk tajam tapi mencanduiku untuk sekedar menyapanya kembali. Garis awan tipis diangkasa adalah ornament terindah yang menyambutku. Dan kuntum edelweiss yang merekah tentunya adalah sebuah jamuan istimewa yang tak akan pernah tergantikan. Aku disini, kembali dalam rengkuhan alam, bercumbu dengan sejuknya udara dan menari bimbang dalam pelukan kabut Ranu Kumbolo.

 

“Andai engkau ada disini..” gumamku

“Dan suatu saat nanti kau akan menemaniku disini, duduk menikmati senja yang merajuk…”. Seperti senja yang sedang kunikmati, tanpamu…

 

Angin dingin berhembus menggoyangkan bunga-bunga ungu yang tumbuh dari arah Tanjakan Cinta, sepertinya mengguggah dan menunjukanku arah yang harus kutuju, Pucak Mahameru. Tapi tidak untuk kali ini, aku hanya ingin berada disini menikmati gemerlap air yang memantulkan senja jingga. Membiarkan hatiku melebur dalam dinginnya udara Tengger. Semakin melebur dan semakin hilang, hingga rasaku menyatu dengan suasana ini. Aroma dalam yang terus mengusiku, Kau disana memperhatikanku tapi tak mampu kusentuh.

 

“Sinar namamu, seperti cahaya yang selalu menerangiku meski tanpa kau sadari…” Kusebut namamu, sepertinya terlalu sering kusebut namamu. Dalam setiap tulisan yang tak pernah henti kau rangkai. Aku mengagumimu dalam setiap pilihan kata yang kau gunakan untuk menceritakan kisahmu. Dan aku selalu ada disana… Sama seperti kau ada disini dalam perjalananku kali ini. Dalam sebuah kotak nasting yang kau sisipkan saat mengantarku dalam kekhawatiran kemarin. Kutemukan sepotong makanan berkalori tinggi dengan bentuk hati… berwarna putih dalam rasa coklat. Hm… Sepertinya rasa ini semakin melebur dalam kabut dingin Ranu Kumbolo ini.

 

Langkah ini yang menemaniku meninggalkan sejenak kepenatan ibu kota, yang semakin membuatku melupakan permainan imajinasi. “Ngiri banget dengan kretifitasmu…” sebuah tweet dengan hashtag nomention yang kukirim dalam timeline yang hanya terpampang namamu disana. Akankah hanya mengagumimu dalam garis waktu itu? Kemudian tertimbun tweet lain dan menguap seperti air danau yang terkena sinar matahari pagi. Akankah? Karena sebenarnya memang tak pernah kutemui dirimu disini, dalam setiap perjalananku, dalam setiap pendakianku, dalam setiap puncakku. Tidak seperti yang sering ku temui dalam tulisan petualanganmu. Kau merangkainya dengan apik meski tak pernah kau jalani.

 

Mungkin nanti, aku akan mengantarkanmu mewujudkan mimpi-mimpi yang ada di tulisanmu… tentang tempat yang indah ini, tentang pendakian yang melelahkan, dan tentang puncak dimana aku akan selalu menemukanmu…

 

"She’ll be coming round the mountain, when she comes…" nyanyianku lirih...

 

 

- - - - - - - - - 

hanya tulisan gak jelas dan #nomention, terinspirasi dari sebuah tweet dan sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Abah Iwan Abdurrahman.Dan tentang kerinduan merangkai kata... 

 

 

hans

www.trihans.com


Kamis, 29 Desember 2011

test







Jejak Petualang Community
admin@jejakpetualang.org
www.jejakpetualang.org

Jumat, 11 November 2011

Jumat, 01 Juli 2011

Imigran Sibuk membelai Ibu Kota

7 bulan lalu aku membulatkan tekad untuk meninggalkan kota panas yang sudah hampir 10 tahun ini kutinggali, Surabaya. Waktu 10 tahun tersebut tentunya cukup mengenalkanku dengan seluk beluk kota yang terkenal dengan pisuhannya itu. Menjelajahi gang-gang kecilnya hingga ke beberapa kota di sekitarnya. Tak ada saudara disana, tapi pergaulan dan persahabatanku mengantarkan pada persahabatan erat yang aku awali dari dunia maya, dunia milis. Dari situlah aku menemukan teman-teman yang selalu menemaniku bahkan terbawa hingga kini di Jakarta.

 

Ketakutan petama sebelum memilih Jakarta adalah, butuh berapa lama aku akan menghapalkan kota terbesar di negeri ini. Kayaknya tak cukup setahun untuk berani jalan sendiri ke sebuah tempat yang belum pernah kusinggahi.  Apalagi diluar sana Jakarta terkenal dengan macet dan kehidupanya yang tak kenal kompromi bagi mereka yang lemah. Takut… tentu saja, saya hanyalah pendatang dan baru beberapa kali menginjakan kaki disana. Hanya monas dan sekitarnya yang aku kenal sisanya adalah gap gelap seperti area perang di game Red Alert sebelum kita membeli Spy Satelit.. hm…

 

Sambutan macet dari Jakarta mampu aku terima dengan lapang dada, karena memang sudah resiko yang harus dihadapi jika memilih Jakarta sebagai tujuan hidupnya. Ya tentu saja mampu kuhadapi karena aku tak perlu bermacet ria menggunakan kendaraan umum dijalanan yang katanya lebih banyak jumlah kendaraan dari pada panjang jalan-nya. Karena aku memilih tinggal di tempat kos yang tidak jauh dari kantor utamaku, hm… jadi urusan macet Jakarta sudah diatasi meskipun harus menyewa tempat kos yang apabila aku masih tinggal di Surabaya bisa untuk membayar selama tiga bulan, mahal.

 

Petualangan dimulai,

 

 

Minggu kedua di Jakarta aku sudah berani mengendari motor sendiri ke Depok, kerumah tante Nha yang rumahnya di ujung Depok coret. Pengalaman sekali kerumahnya di tengah malam ternyata tak membuatku bingung dengan jalan lurus sepanjang Pancoran – Margonda. Dan tentunya Navigasi Feeling yang sudah tertanam di hampir setiap indifidu asli Jawa. Lor-Kidul, Utara Selatan Barat Timur, adalah kompas hidup yang hampir 90% ku akui keakuratanya. Pernah sekali aku ke Makassar dan Manado, saat pertama kaki ini berpijak di tanah Sulawesi, saat itu pula mampu kutunjukan arah Barat dengan benar. Tak bisa dinalar dengan akal, karena itu merupakan kebiasan kami di kampung, disana kami terbiasa membedakan ruangan dengan templete arah, contohnya: sentong lor (Kamar Utara), sentong kidul (Kamar Selatan), Kulon umah (Halaman Barat), atau wetan pager (Timurnya pagar). Itulah kebiasaan kami mengenal arah, sudah tradisi dan hingga kinipun aku bisa merasakan feel arah kiblat itu dimana.

 

Dengan bekal arah itulah aku berani menjelajahi Jakarta, meskipun baru bagiku dan tentunya malah lebih sering mendengar menyesatkan bagi orang Jakarta sendiri yang tak kenal arah. Bulan pertama di Jakarta sebuah event kecil kubuat, kali ini mengunjungi makam Soe Hok Gie di Museum Taman Prasasti, di Jakarta Pusat. Lagi-lagi navigasi arah yang ku berikan ke rekan-rekan Jakarta cukup membuat mereka tersesat, hahahah…. padahal letaknya ditengah kota Jakarta dengan patokan Sebelah Barat Monas. Malah ada yang sampe nyasar di halte Gambir ...behh!

 

Okelah, event pertama menemani imigran sibuk sukses mengumpul 20 kawan, dan hanya di dihadiri 4 cowok kesepian, sisanya adalah kaum cantik yang tentunya semakin memperindah aura kusam kuburan-kuburan di Museum Taman Prasasti. Event selanjutnya adalah JPers ON Seven, kembali bermain bersama warga @jepecom, memperingati 7  tahun kebersamaan di milis Jejak Petualang Community. Ide kecil yang kami mulai di Pasfest akhirnya mendapat sambutan dari JPers dan dari JP crew. Maka event di Ranca Upas digelar dengan bonus doorprise dari sponsor dan kado istimewa liputan di acara Jejak Petualang trans|7.

 

 

Hampir setiap minggu aku menikmati Jakarta bersama kawan-kawan. Bukan jalan-jalan mahal yang kujalani, tapi menimati Jakarta dengan murah. hanya modal untuk transportasi umum dan tiket masuk kesebuah lokasi wisata kota yang masih berkisar di HTM 10.000,-. Coba perhatikan, bagi teman-teman yang berkecimpung di dunia EO tentunya sangat memahami hal ini. Sepertinya semua orang Jakarta butuh hiburan. Apapun event yang diadakan selalu dipadati dan laris manis. Lihat saja Car Free Day di Sudirman, selalu dipadati warga Jakarta dari berbagai penjuru. Macetnya mobil setiap hari digantikan oleh kemacetan manusia. Beberapa kali aku membantu temen yang punya EO dan mengadakan tripnya di Jawa Timur, hm.. sudah dipastikan 80% pesertanya adalah warga Jakarta. Bagi mereka mungkin uang bukan lagi jadi masalah untuk menikmati sebuah kebebasan.

 

Sepertinya terjadi sebuah simbiosis Mutualisme disini, dimana aku sebagai pendatang butuh mengenal ibu kota lebih jauh, dan warga ibu kota butuh hiburan murah yang bisa dijadikan alternative selain harus membuang duit di mol-mol Metropolitan. Event-event kecil yang kurencanakan tak membutuhkan persiapan khusus, hanya dengan membuat flyer dan disebar di wall FB, atau hanya sekedar ajakan Imigran sibuk minta ditemani kesuatu tempat di status FB ataupun di milis. Seperti halnya acara jalan-jalan ke Kebun Binatang Ragunan, hanya kuposting di status FBku, kemudian ada sekitar 7 kawan yang menemaniku mengelilingi hutan kecil di Ragunan, tak hanya berkeliling selama 4 jam, tapi juga menyempatkan untuk mengunjungi penangkaran binatang di tempat kang Maman.

 

 

Selanjutnya adalah event dengan peserta terbanyak yang kubuat selama 3 bulan jadi warga baru Jakarta, rencana Kunjungan ke 8 Museum di Kota Tua tapi karena beberapa hal akhinya meninggalkan 3 lokasi diantarnya. Dengan start di Taman Beos, kemudian diawali mengunjungi Museum Mandiri, Musium Bank Indonesia, Musium Fatahilah, Musium Wayang, Musium Seni Rupa, Jembatan Kota Intan kemudian berjalan ke utara sampai di Musium Bahari. Tujuan ke Sunda Kelapa ditangguhkan karena hujan deras. Disini lebih dari 50 kawan warga Jakarta yang mengikutiku melangkahkan kaki disekitar kota tua Jakarta. Hm.. pendatang baru mengguide warga ibu Kota.

 

Masih berlanjut, aku menemukan sebuah warung mendoan di Benhil tanpa sengaja. Tapi dari ketidaksengajaan itu kini tempat mendoan itu selalu menjadi Jujugan JPers yang sedang berkunjung di Benhil. Hampir seminggu sekali aku menjamu mereka disana, Mendoan adalah makanan khas dari banyumas, tak jauh dari rumah tinggalku di Gombong. Dengan ditemani teh poci dan gula batunya tentu semakin mantap menikmatinya dipinggir jalan. Dan dari Mendoan itulah kemudian lahir ide-ide kecil, salah satunya kunjungan ke TMII bersama lima kawan. Salah satunya adalah kang mas Wiwid yang sedang keluar hutan Kutai mengunjungi Jakarta. Berlima seharian mengelilingi TMII, dengan berbekal full makanan yang dimasak khusus oleh Mira, jadilah wisata keluarga kami menyantap makanan itu, hm.. yummy,

 

 

Menikmati musium adalah alternative yang kupilih untuk menemani jiwa ngelayap yang entah sejak kapan aku mulai. Ya kenapa museum, karena disana banyak informasi berharga dan tentunya banyak barang-barang unik yang mengandung banyak nilai sejarah. Tujuan  berikutnya adalah Museum Satria Mandala di Jalan Gatot Subroto. Koleksi keprajuritan yang lengkap sejak jaman kemerdekaan hingga setelahnya. Koleksi peralatan perang yang ada pun cukup lengkap, dari hanya bambu runcing, senapan, hingga pesawat terbang dan kendaraan perang. Tempatnya yang luas sangat tepat untuk mengadakan sebuah event, semoga pengelola museum mau membuka diri dengan memberikan tempat untuk komunitas yang ingin mengadakan acara, karena tentu nilai ganda akan didapatkan oleh pihak museium, selain publikasi juga informasi yang ditersebar pengunjung.

 

Jakarta sedikit ke selatan, ada sebuah tempat yang menarik minatku, Masjid Kubah Emas di Depok. Aku belum pernah kesana sebelumnya, dengan bantuan Google Map di hape kecilku akhirnya mengantarkan kesana. Gagal dikesempatan pertaman dan baru pada kesempatan kedua bisa memasuki masjid yang sangat megah itu, kubahnya yang berwarna emas itu ternyata memang tebuat dari emas, wow!. Ditemani Vina, Joe, Neni dan Opay, jadilah sore itu aku menjadi juragan minyak urut yang ditemani salesnya… :p hahaha. Bangunan megah khas timur tengah dengan ornament menakjubkan didalamnya. Kubah Emas bisa saja menjadi Masjid Termegah di Asia karena bahan pembuatanya yang memang terbuat dari batu marmer dan emas. Semoga kemegahan masjid itu juga membawa manfaat yang besar bagi pembuat dan tentunya bagi umat.

 

 

Hm… tak terasa akhir bulan ke 7 aku jalani di Jakarta, dan bulan depan adalah bulan ke delapan jadi warga Jakarta. Sepertinya tak butuh waktu lama lagi untuk mengenal Jakarta, jalanan macet yang semakin aku nikmati. Nongkrong dari satu Pemaran ke pameran lainya bersama kawan-kawan. Persahabatan dibawah papan pasfest yang hampir setiap malam minggu ku kunjungi tapi tak pernah merasa bosen. Dan tentunya kawan-kawan yang selalu menemani Imigran Sibuk ini menikmati Jakarta dengan apa adanya tanpa harus mengeluh….

 

 

Selamat ulang tahun Jakarta ke 484….

 

 

 

-hans-

www.trihans.com

Perak Isle, menghuni pulau tak berpenghuni...



Menyeberangi lautan, kali ini aku tidak lagi menjadi Frodo yang dengan riang bermain di hutan rumput yang menghampar sejauh mata memandang di Shire dan tak ada lagi kembang api dari si penyihir abu abu, Gandalf. Bukan lagi menjadi seorang Hobbit, tapi ingin menjadi seorang Peter Pan…. Taukah kalian siapa Peter Pan itu? Dia adalah tokoh anak petualang jahil yang menjadi pahlawan bagi teman-temanya, dia bisa terbang karena ditaburi butiran Kristal oleh sang peri, peri kecil cantik bernama Thinker Bell… yang selalu memarahi Peter karena kejahilanya menggoda Kapten Hook yang jahat.

Bening gemericing seperti bunyi lonceng, ah bukan! ia tidak berbunyi tapi berkilau selaksa butiran mutiara yang terhampar seluas lautan, ya luas sekali. Dari ujung satu ke ujung lainnya tak mampu kutangkap dalam satu pandangan mata. Aku dimana! Terombang-ambing ditengah kubangan besar. Yang tak aku kenali dan pahami penghuninya. Setelah beberapa saat meninggalkan dermaga Muara Angke dan terpaksa harus mendekam digeladak karena takut diturunkan paksa oleh Polisi Laut, seperti sebelumnya aku menaiki kapal tanpa pelampung, dan akhirnya harus menjadi sebagian dari penumpang yang diturunkan karena tak memakai pengaman itu.

“Ini di lautan, tak ada manusia yang bisa bertahan hidup dilaut… mau mati kamu” Itulah terikan-teriakan yang hampir seperti makian mengingatkan kami bahwa nyawa kami tak ada artinya jika terombang-ambing dilautan tanpa pelampung. Sayang, aku bukanlah seorang Peter Pan yang dapat terbang sambil membawa oleh-oleh mangga busuk untuk dilempar ke wajah Kapten Hook. Hanyalah seorang penumpang kapal yang baru pertama kali ini berada ditengah lautan yang seperti tanpa ujung ini, arghhh!! Terlalu luas menurutku!.

Inilah trip pertamaku ke laut, setelah sebelumnya lebih banyak mengunjungi menara-menara tinggi dinegeri Minas Ithilen, menggapai puncak-puncak dunia yang berupa gundukan melelahkan, Gunung. Jauh lebih sejuk dari pada terik yang kurasakan di geladak depan ini, duduk menantang angin sambil menikmati kapal-kapal lain yang juga berlalu-lalang, meskipun tanpa marka tapi sepertinya mereka mengikuti arus laut yang tentunya telah dipelajari sejak nenek moyang kita sebagai masyarakat bahari di Negara kelautan ini.


Tujuan kami liburan kali ini adalah Pulau tak berpenghuni, sejauh 5 jam perjalanan laut dari Jakarta. Pulau Perak, entah dimana itu…. Di dalam peta maupun Google Map yang terinstal di hapeku pun aku tak mampu menemukannya. Padahal dengan aplikasi itu selalu sukses menemaniku menjelajah beberapa kota yang belum pernah kudatangi sebelumnya, tapi kali ini hanya pasrah pada nahkoda. Terlalu kecil mungkin, diantara ribuan pulau yang ada di gugusan Kepulauan Seribu. Untuk menuju ke Pulau Perak bisa ditempuh dengan transit sekali di Pulau Harapan. Tapi karena sempat diturun paksakan oleh Polisi Laut akhirnya beberapa diantara kami harus transit beberapa kali di Pulau Tidung, Pulau Pramuka kemudian menaiki kapal kecil menuju Pulau Kelapa dan sampailah diPulau Harapan. Selain waktu yang 2 jam lebih lama juga harus berkeliling diantara selat-selat kecil yang memisahkan pulau-pulau itu, tak apalah ini trip ku pertamaku di sini dan memang harus mengenal lebih banyak nama-nama pulau disini.

5 Jam yang melelahkan, terombang ambing di Laut Jawa. Hanya satu BAB dari Buku Peter Pan and the Shadow Thieves yang mampu kuselesaikan, sisanya adalah mencoba terpejam dengan tubuh seperti dihentak kenakan dan kekiri, kejamnya ombak ini… Argh!, sepertinya aku gagal mimpi menjadi Peter Pan, bagaimana mau mengalahkan Kapten Hook kalo naik kapal kecil saja aku terdiam disudut geladak. Hmmm mungkin lebih pantas menjadi Kapten Jack Sparrow, meskipun hanya memakai rakit kecil dengan ditemani Rum dan Kompas dia bisa menjadi seorang Kapten. Memimpikan Black Pearl, hehee…


Lanjut ah, takut kalo sampe kaka rangga ngomong “kemonceren sampeyan mas!”. Tak usah mimpi jadi Peter Pan atau jadi Kapten Jack Sparrow yang akan segera tayang sequelnya. Mending jadi penumpang kapal biasa sambil memainkan pancing diburitan bersama teman teman lain yang sepertinya juga mulai bosan menikmati birunya laut, 5 jam dikapal dan 5 jam itu pula yang diliat cuma air laut. Hanya sesekali membidikan mata lensa 18-55 SAM ini menangkap landscape dan atol-atol yang tiba-tiba membirukan lautan menjadi lebih muda. Atau menangkap objek seorang nelayan yang sedang mengais rejeki dari lautan.

Dan jam 2 siang itu, akhirnya kapal kecil yang kami naiki dari Pulau Pramuka mendamparkan kami sebuah pulau dengan nama Pulau Kelapa, dengan melanjutkan langkah menuju pulau disebelahnya yang sudah dihubungkan dengan jalan darat. Sampailah di Pulau Harapan, istirahat sebentar dan maksi dirumah Pak Haji, jujugan kami yang tergabung dalam trip besutan dari Brownies Adventure. Disana kami bergabung dengan rombongan besar yang sebelumnya terpisah di Muara Angke. Tak lama di Pulau Harapan itu kami lanjutkan dengan dua kapal kecil menuju Pulau Perak, naik kapal lagi….beeeeeeh!!

Masih satu jam lagi menuju Pulau Perak, Rasanya semakin jauh dari daratan, atau kalimat putus asa-nya… semakin jauh dari kehidupan. Nahkoda kapal kecil yang ku tumpangi memainkan tugasnya dengan dibantu seorang navigator, tak dibutuhkan alat canggih cukup sang navigator melambaikan tanganya untuk menghindari ranjau laut (baca: sampah). Sang Nahkoda pun harus sigap membaca pesan itu kalau tak mau baling-balingnya tersangkut harta karun yang ternyata meskipun lautan itu luaaaas, tapi banyak juga sampah didalamnya L.


Hampir jam 3, akhirnya sampailah rombongan yang terdiri lebih dari tiga puluh peserta ini menginjakan kaki di Pulau Perak. Hanya sebentar menurunkan barang bawaan, dan leader kami kaka Rangga Dive menginstruksikan untuk menuju ke Spot Snorkeling pertama. Hm… belum pernah saya berenang dilautan seluas ini. Dan kali ini dengan sebuah pelampung langsung terjun kedalamnya. Memakai masker dan snorkel yang terasa aneh, nafas yang bingung antara mulut dan hidung, dan tentunya air laut yang terlalu asin, ya sangat terlalu sekali asinnya…. Harus dengan rela menelanya beberapa teguk. Huek! Bukanya keindahan laut yang kutemukan sore itu, tapi rasa asin dimana-mana, sepertinya saya menyerah di tengah lautan, masih lebih rela berpeluh ditengah hutan dan tanjakan dari pada harus menelan air kuah yang kebanyakan garam ini.

Tak lama di spot pertama, dan kembali ke Pulau Perak karena hari semakin sore, ternyata setelah di sampai di Pulau Perak, aku lebih takjub disini, coral biru yang menghampar mengelilingi pulau ini, sepertinya tak perlu jauh jauh mencari biota laut cukup menyelam disekitar pulau sudah menemukanya. Ditemani Om Timmy sebagai master dive yang menurunkan ilmunya pada ketiga muridnya yaitu, aku, Vina dan Joe. Sore itu tak jauh dari dermaga pulau sang suhu menurunkan ilmu dasar snorkeling. Bagaimana mengigit snorkel yang benar, hahaha… benar saja kenapa tadi bukanya bernafas dengan nyaman malah airnya masuk ke mulut semua, ternyata hanya digigit sedikit pada ujungnya sedangkan tadi aku menggigit semua snorkel masuk ke dalam mulut… hohoho *malu.

Setelah benar cara bernafas dan menggunakan masker, tips selanjutnya adalah berenang tanpa pelampung. Hm.. beranikah? sepertinya tidak. Dasar laut yang tak mampu kutembus dasarnya dan bulu babi yang sepertinya banyak dimana-mana. Hm.. sang master memang terkenal sebagai penipu yang baik hati, dengan sedikit rayuan maut akhirnya aku melepaskan pelampung meskipun sesekali berenang kearah pelampung dan akhirnya… bisa menikmati laut tanpa pelampung. Assssiiknyaaa… setelah 2 pelajaran utama itu, aku berani berkeliling disekitar pantai. Melihat lihat biota laut yang sungguh menakjubkan. Ikan-ikan warna warni yang selama ini hanya aku liat di DiveMag, dan kali ini aku bermain denganya. Seperti bermain petak umpet, aku datang mereka masuk ke dalam terumbu karang dan aku pergi dia melirik keluar. Hohoho… dikira monster laut kali… Menakjubkan kehidupan didalam air sana. Ada terumbu karang yang melebar seperti meja, ada kerang-kerang yang bulat, dan banyak ikan ikan kecil… ahhh, besok harus turun lagi.

Pulau ini tidak telalu luas, bahkan aku bisa melihat sela-sela cahaya diantara pepohonan diseputar pulau, mungkin 2x lapangan bola saja, atu malah kurang. Dan hanya ada satu sumber air disana, bukan air tawar tapi air payau. Tak baik diminum hanya bisa digunakan untuk membilas tubuh sehabis berenang di air laut. Pulau tak berpenghuni ini sebenarnya bukan juga pulau kosong, setiap akhir pekan selalu ada penunggunya yang mematok retrubusi untuk pengungjung yang ingin bermalam atau mandi disini. Karena tak ada rumah penduduk apalagi cottage, jika ingin bermalam disini harus membawa tenda. Seperti yang kami lakukan malam ini. Tenda tenda yang sudah disiapkan oleh Brownies Adventure siap menjadi tempat bermalam kami… Sepertinya aku lebih tertarik untuk tidur diluar beratapkan seribu bintang dan beralaskan ponco yang kubawa.

Sepeti biasa, kegiatan malam ini akan terasa sangat menyenangkan, bermain bersama sahabat-sahabat yang sebagian besar adalah wajah baru yang belum kukenal, dan diantaranya adalah 4L yang selalu menemani kisah perjalananku sebelumnya. Menyeduh mie kuah dan membuat kopi didepan tenda, inilah kehangatan alam yang selalu kurindukan. Perkenalan dimulai, doorpres dibagi, dan kemudian berbaur kembali dengan alam, menikmati dermaga kecil ini. Hampir sempurna menjadi Peter Pan, hanya perlu butiran butiran Kristal dari kantung peri yang sebenarnya adalah peri pekerja itu. Ingin rasanya menggapai ribuan bintang dilangit, kemudian melemparkan salah satunya sehingga membentuk bintang jatuh… dan tentunya aku bisa menyebutkan satu permitaan dari setiap bitang yang kulempar.. hehe.


Perkiraan yang salah sejak awal. Tenda yang kami dirikan ternyata berada ditempat yang tidak seharusnya. Air pasang memaksa kami memindahkanya, bukan cuma sekali sampai akhirnya semua tenda naik ke sela sela pepohonan… hehehe, untung aku tak berada didalam tenda, hanya cukup menarik ponco yang kujadikan alas pasir ini. Ditemani om timun, bercerita kecil menemani malam dingin dengan angin laut yang cukup kuat. Dan akhirnya tak ada suara diantara kami, dan terlelap beralaskan pasir putih..

Pagi beranjak disambut sunrise tak terlalu indah, tapi air laut biru muda dan coral-coral yang kemarin kusapa lebih menarik minatku. Melanjutkan training didalam air bersama om Timun, kali ini air laut lebih jernih dengan visibility yang lebih baik. Kedalam laut 6-10 meter dapat dilihat dengan baik. Semakin banyak ikan ikan kecil yang unik dikedalaman sana. Berbagai bentuk terumbu karang juga menakjubkan untuk dinikmati. Sungguh dunia bawah air yang sebenarnya ada dihadapanku. Segerombol anemone menjadi tempat bermain nemo si ikan badut. Ingin rasanya menyelam lebih dalam, tapi ternyata aku belum menguasai teknik menyelam. Susah rasanya membawa tubuh ini tenggelam. Hanya beberapa jengkal kemudian mengapung lagi. Dan ternyata ketakutanku kemarin sebelum mengenal laut memang tak beralasan. Kalau menyelam saja susah, bagaimana mau tenggelam. Jadi intinya selagi masih ada udara di dalam tubuh kita, kita tidak akan tenggelam, asalkan tidak panik. Yayaya.. alasan yang masuk akal dari master saya pagi itu.

Arus kuat membawaku menjauh dari dermaga, cukup jauh hingga terasa sangat capek untuk kembali berenang ke dermaga. Ternyata beberapa diantara kami pun tak sadar telah terbawa arus laut. Hingga kaka Rangga menginstruksikan kepada kami untuk menyudahi permainan di air karena harus segara packing dan kembali Ke Jakarta. Jam 12 kami harus sudah berada di Pulau Harapan, karena satu-satunya kapal akan berangkat mengembalikan kami ke Jakarta, dan jangan sampai terlambat atau menunggu keesokan harinya.

Hamparan laut itu telah memberikan sedikit cahaya surganya dikedalaman sana, tak apalah kali ini aku menikmatinya bersama Peter Pan dan Thinker Bell serta mimpi-mimpi gila Perompak Karibian, bermimpi menjadi anak jahil yang tak kehabisan akal untuk terus bermain di pulau kecil yang tak pernah membuatnya bertambah umur sedikitpun. Sepertinya esok hari kulit ini akan menjadi gosong setelah dua hari berjemur dalam terik dan asinya air laut. Dan kapal Dolphin yang membawa kami dari Pulau Harapan yang berair biru jernih telah mengantarkan sampai kembali ke Muara Angke yang airnya hitan kelam.

Aahhh… Pulau Perak, kini hatiku dihuni oleh penghuni pulau tak berpenghuni itu…. –Permata-

Thanks to:
Brownies Adventure: Rangga, Juppy, Jiteng, Faries, Reddy
Pasukan 4L: Om Timmun, Om Jaka, Henny, Joe, Agvina, Wawan and the gank
Dan kawan baru yang telah menemani menghuni pulau tak berpenguni..

 -hans-
www.trihans.com